Minggu, 30 Maret 2014

Waduh, madumu ternyata palsu, bro!

Ngaji salaf, adalah sebuah kata kerja yang sangat memiliki arti bagus, baik, positif dan sarat akan nuansa ibadah dan kealiman manusia. Namun menjadi ironi yang berkepanjangan, bila kemudian ngaji salaf hanya menjadi kata benda nan bejibun nuansa tazkiyyah/rekomendasi dan telah kehilangan maknanya, ngaji salaf kini tak ubahnya hanya menjadi gelaran yang tak berarti...dan fenomena ini banyak kita temui di sekitaran kita (hiks..., sedih bro)

Khusus utk mereka yang kayak gini nih (baca: yang cuman ngaji salaf), kami menasehatkan agar mereka segera berhenti untuk cuman ngaji salaf, dan segera bergegas menjadi SALAFY sahaja. Fenomena yang banyak kita dapati dari mereka yang hanya ngaji salaf ini adalah, sebagian dari mereka (karena enggannya mereka menjadi salafy) akhirnya memiliki akhlaq dan muamalah yang jelek terhadap saudaranya, adapula sebagian mereka (sekali lagi karena enggannya mereka menjadi salafy) menjadi cacat manhajnya, sehingga pada tahun politik seperti saat ini mereka seperti kerbau kehilangan induknya, celingak celinguk kebingungan menyaksikan euforia tawaran, agitasi dan propaganda partai-partai yang mengaku islami. ujung-ujungnya mereka ikut2an bawain fatwa-fatwa ulama yang cocok dengan hawa nafsu makelar-makelar dakwah partai islami tadi, Allohul musta'an! ujung2nya ya nyoblos...gitu kan ye? Ya udah.., berhenti - cuman ngaji salaf - aja kalo gitu... sekali lagi jadilah Salafy...Salafy Sejati. (Titik)

Teman kita yang satu ini..., LUQMAN, kita sebut saja nama beliaunya demikian. Luqman ini sudah kurang lebih 2 tahun ngaji salaf, kami mengenalnya kurang lebih setahun yang lalu, dan sebab kami berkenalan dengan beliau ya... karena simbiosis mutualisma, beliau punya madu dan kami butuh madu untuk jualan...(maklum profesi kami sebagai bakul herbal dan madu, menuntut kami untuk sering berinteraksi dengan banyak bakul2 yang seprofesi dengan kami).

Luqman ini pandai sekali berkata2 (maklum, profesinya kan bakul), dari A hingga Z beliau bercerita tentang madunya, walhasil karena beliau ngaji salaf dan ceritanya begitu meyakinkan akhirnya kamipun percaya dan untuk kemudian kami rutin mengambil madu dari beliau, kedatangan demi kedatangan madu kami selalu cek dengan baik, dan memang madu milik Luqman ini bagus di awal-awalnya. (FYI.. Luqman ini bukanlah satu-satunya supplier di perusahaan kami, madu dari Luqman hanya 20% memenuhi supply kebutuhan madu kami)

Dan tibalah masa itu... Kurang lebih 3 bulan yang lalu, ketika kami telah meneken pakta integritas dengan Dinas Kesehatan Boyolali, sehingga nantinya produk madu kami akan mendapat SERTIFIKAT SPP IRT yang dikeluarkan oleh dinas tersebut. Dengan sebab itulah kami mulai sering keluar masuk laboratorium, mulai dari laboratorium swasta yang mahal dan sulit dijangkau (karena tempatnya yang tinggi dilantai 4 dan gk ada liftnya lagi...capek banget), hingga laboratorium negeri yang murah meriah dan istimewa. Acara keluar masuk laboratorium ini tidak lain tidak bukan hanya demi melakukan pengujian demi pengujian terhadap sample madu yang kami terima.

Hingga sampailah kami pada madu siluman ini, madu siluman ini kami terima pada tanggal 24-2-2014. (untunglah gak banyak...cuman 25kg). Madu siluman milik si Luqman ini bening, mengkilap, berkilau, berkaca2 juga, wow deh pokoknya, penampilannya ciaamik banget, kinclong kata orang Surabaya. Warna madu siluman tersebut tak seberapa pekat, demikian pula rasanya juga tak seberapa sangat, tak seperti madu pada umumnya. Dipermukaan madu siluman tersebut bertebaran bangkai-bangkai lebah yang seakan-akan memberikan qorinah dan isyaroh bahwa madu tersebut benar-benar asli dari kandang lebah...tuh buktinya banyak lebah yang jadi bangkai diatasnya, bisa jadi demikian alibi si produsen madu siluman ini. Sungguh benar-benar akan menggugurkan kecurigaan mereka yang awam terhadap madu.

Namun Alhamdulillah, kami tak semudah itu terperdaya, berbekal pengalaman 11 tahun menjadi bakul madu, kami mencium gelagat YANG MENCURIGAKAN dari madu siluman yang aduhai ini. Kami pun bergegas berangkat menuju Balai Pengujian Dan Sertifikasi Mutu Barang, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Untungnya jaraknya gak pake jauh, alamat lengkapnya di Jl. Pajang - Kartasura Km 8 Pabelan Surakarta, belakang Carefour Pabelan. jadi gak pake capek, gak perlu ke Semarang, Surabaya, atau Jakarta untuk cuman uji madu, cukup di Solo, dekat rumah aja. Sample "madu" seukuran 100ml kami masukkan ke dalam botol PET yang bersih, kemudian kami serahkan sample tersebut kepada petugas balai yang telah menyambut kami dengan ramah sebelumnya. Ahamdulillah. Setelah mengisi buku tamu dan formulir pengajuan uji mutu terhadap "madu" yang kami bawa, kamipun dipersilahkan untuk menunggu selama 2 pekan untuk mendapatkan hasil laboratorium dari "madu" tersebut, dan hasilnya seperti pada gambar...
Wow gitu loh... Madumu ternyata palsu bro!... madumu sekelas madu pabrik ... madu sintetis yang bahkan tak mengandung unsur madu sedikitpun. kecewa bro...

Ya sudah...kita nyebut saja banyak2, qodarulloh wa masya'afa'al innalillahi wa inna ilaihi roji'un, semoga Alloh mengganti musibah ini dengan gantian yang lebih baik.

Dan segera kita lupakan si Luqman dengan madu dan akhlaq sintetisnya. Kita lanjutkan pembahasan fokus pada madu sintetis, madu siluman buatan pabrik ini.

Beberapa bulan yang lalu, kami sempat sowan ke Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyyah Surakarta, dan kami bertemu dan berdiskusi dengan Pak Andi, salah satu laboran yang ahli dalam bidang farmakologi herbal yang didalamnya tercakup jenis dan ragam madu. Beliau menggambarkan kepada kami, betapa dunia perdagangan madu kini telah banyak sekali mengalami distorsi (selesai disini ucapan beliau).

(Tambahan dari kami) Sehingga seorang yang akan menekuni bisnis madu harus siap dengan kejujuran dan ketangguhannya. Beredarnya madu sintetis ke dalam pasaran telah membuat pasar madu karut marut, betapa tidak demikian, wong ketika seorang kustomer/pasien yang berharap kesembuhan dari penyakitnya dengan jalan mengonsumsi madu, kini malah mendapatkan tambahan penyakit, seperti radang tenggorokan, gangguan lambung, dan melonjaknya gula darah, karena apa?, karena yang dikonsumsi kustomer/pasien tadi bukanlah madu asli dan murni, melainkan madu yang 30% nya sintetis, atau 50% nya sintetis, atau bahkan 100% sintetis. Wal'iyyadzubillah.

Menurut seorang apoteker yang kami temui dan kami rahasiakan namanya, Madu Asli yang DIOPLOS dengan madu sintetis pada kadar tertentu, masih dapat memiliki angka 3 untuk aktivitas enzim diastase, yang artinya, menurut SNI (Standard Nasional Indonesia) madu tersebut masuk kategori layak dikonsumsi. dan hal ini pernah ditangani sendiri oleh apoteker tersebut ketika owner sebuah industri madu dari MAGELANG memohon agar madunya diupayakan dapat lolos persyaratan SNI, padahal madu tersebut MENURUT PENGAKUAN JUJUR DARI PRODUSENNYA adalah MADU OPLOSAN, dan pada akhirnya madu tersebut lolos SNI dan kini telah beredar luas di pasaran... (ngeri tenaan!).

Apoteker tersebut menuturkan, bahwa komposisi dari madu sintetis ini adalah bahan-bahan kimia yang dapat dengan mudah kita jumpai di toko-toko bahan kimia. Dan hal ini menjadikan betapa sangat mudah untuk memroduksi madu sintetis dalam skala rumahan karena bahan-bahan kimia tersebut tidak harus dibeli dalam jumlah banyak, 1-2 kilo pun diperbolehkan.

Mari kita simak, bahan kimia apa saja yang menjadi komposisi madu sintetis ini.
1. Bahan pokoknya yaitu pemanis, untuk pemanis sekaligus menjadi bahan pengisi pokok, dipilihlah pemanis kimia yang paling murah yaitu Sorbitol dan atau Gliserin.
2. Bahan pewarna, dipilihlah pewarna kimia dengan warna semirip madu yang biasanya toko bahan kimia sdh meramunya sedemikian rupa, sehingga menjadi standard warna madu sintetis.
3. Bahan perisa dan aroma, tinggal ditambah essence atau perisa madu yang juga terbuat dari bahan kimia. 4. Dan agar lebih meyakinkan dan untuk lebih bisa menipu, para produsen madu sintetis ini biasanya menambahkan soda atau bahan kimia yang bisa menghasilkan busa, agar berkesan menyerupai madu asli yang berbusa2.

Mau tau modal yang dibutuhkan oleh produsen madu sintetis ini untuk produksi 1 kilo madu sintetis...silahkan bantu browsing ya...

Kurang lebih modalnya hanya 10rb hingga 15rb rupiah saja untuk perkilonya, dan kemudian madu sintetis itu mereka jual dengan harga 35rb hingga ratusan ribu rupiah per kilo, tergantung kata-kata manis cap kecap no 1 yang nempel di kemasannya. wow! ----

 Dan hasil penampakan fisik yang kami dapatkan dari madu sintetis yang kami dapat dari Luqman, adalah sebagai berikut:

1. Kekentalan sangat bagus. (jarang-jarang madu asli dari alam kental kayak gitu)
2. Rasa tidak terlalu manis (mungkin produsen rakus, pengen untung selangit..., sehingga tdk ditambah gula) 3. Aroma tidak terlalu kuat. (sekali lagi produsennya takut labanya berkurang, jadi essencenya dikurangi)
4. Warna tidak terlalu pekat dan terlihat orens terang. (mungkin produsennya kurang modal sehingga penggunaan pewarna kimianya pun di hemat sedemikian rupa)
5. Bersih dari kotoran. ( ya iyalah...wong dari pabrik)
6. Bangkai lebah hanya seakan terapung di permukaan madu dan tidak ada satupun yang tenggelam, (kliatan banget kalo sengaja di tebarkan).
7. Tampilannya bening kemilau. (mirip sorbitol diwarnai)
8. Tidak beku, walaupun 1 pekan ditaruh di dalam freezer. (ya iyalah..kan gk ada airnya)
9. Hasil uji laboratorium menunjukkan bahwa kadar aktivitas enzim diastase hanya 0,85, yang artinya sama sekali tidak mengandung madu, angka 0,85 muncul karena banyaknya tebaran bangkai lebah yang diatas madu tersebut (ini menurut kesimpulan kami)

Ending dari cerita ini cukup bahagia, karena madu sintetis milik Luqman pada akhirnya berhasil kami kembalikan, walaupun kami masih harus menaguk kerugian diakibatkan sebagian madu yang harus dibuang, biaya uji lab, dll. Ala kulli hal kami bersyukur, atas terjadinya tragedi ini, sebagian dari ibroh dan hikmah dari musibah ini adalah agar kami lebih berhati2 dalam menerima madu dari supplier dan terus melakukan uji mutu pada setiap madu yang kami terima. Ditambah lagi Alloh telah mengganti Luqman dengan Supplier yang baru, yang mampu memberikan supply dari sumber yang terjamin mutunya. Alhamdulillah Kami rasa cukup ya... Semoga bisa menjadi bekal bagi kita sekalian untuk berhati-hati dalam memilih madu, banyak sekali luqman-luqman yang lain bersama madu silumannya di sekitar kita, hanya perlindungan Alloh dan kemudian disertai kecermatan kita dalam memilih dan memilah madu, yang bisa menjauhkan kita dari jahatnya madu siluman yang terkutuk. Selesai ditulis Rabu, 25 Maret 2014 di desa grenjeng yang damai sejahtera...

Senin, 05 Agustus 2013

Bismillah ... Alhamdulillah, shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
Perlu dipahami bahwa tidaklah semua orang yang bersaksi laa ilaha illallah (tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah), wa anna Muhammadar Rosulullah(bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasul-Nya) disebut sebagai seorang muslim. Orang munafik pun mengaku demikian, namun itu tidak cukup. Allah Ta’ala menyifati mereka,
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا
Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.” (QS. An Nisa’: 145). Seseorang bisa disebut bukan muslim jika ia melakukan pembatal keislaman semacam kesyirikan, kemunafikan dan mencaci maki diinul Islam.  Nah, sekarang saatnya kita meninjau golongan Rafidhah yang ma’ruf dengan Syi’ah, apakah mereka termasuk muslim?
Mufti Kerajaan Saudi Arabia di masa silam, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz ditanya, “Kami sangat butuh penjelasan mengenai beberapa kelompok Syi’ah. Kami mohon bisa dijelaskan mengenai aqidah mereka?”
Jawaban beliau rahimahullah,
Perlu diketahui bahwa Syi’ah terdiri dari berbagai macam kelompok, tidak bisa kita menjabarkan satu per satu di waktu yang singkat ini.
Ringkasnya, di antara mereka ada yang kafir, yaitu yang menyembah ‘Ali (bin Abi Tholib) dan mereka menyembah ‘Ali. Ada juga di antara mereka yang menyembah Fatimah, Husain dan selainnya. Di antara kelompok Syi’ah ada yang berpendapat bahwa Jibril ‘alaihis salamtelah berkhianat. Kata mereka, seharusnya kenabian diserahkan kepada ‘Ali dan bukan pada Muhammad. Ada juga kelompok yang disebut Imamiyyah atau dikenal denganRafidhah Itsna ‘Asyariyah, yaitu ‘ubad ‘Ali, di mana mereka berkata bahwa imam mereka lebih mulia dari para malaikat dan para nabi.
Syi’ah memiliki golongan yang banyak, ada yang kafir dan ada yang tidak kafir. Golongan yang kesesatannya tidak separah lainnya yaitu yang mengatakan bahwa ‘Ali lebih utama dari Abu Bakr, ‘Umar dan ‘Utsman. Keyakinan seperti ini jelas keliru dan telah menyelisihi ijma’ (kesepakatan para sahabat). Akan tetapi, golongan ini tidaklah kafir. Intinya, kesesatan kelompok Syi’ah bertingkat-tingkat. Siapa saja yang ingin mengetahui secara jelas tentang mereka, silakan merujuk pada kalam para ulama semisal dalam kitab Al Khuthuth Al ‘Aridhohkarya Muhyiddin Al Khotib dan Minhajus Sunnah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Buku lainnya lagi seperti Syi’ah was Sunnah karya Ihsan Ilahi Zhohir dan berbagai kita lainnya yang amat banyak yang telah mengulas kesesatan dan kejelekan mereka. Semoga Allah memberikan kita keselamatan.
Golongan yang paling sesat dari mereka di antaranya adalah Imamiyyah Itsna ‘Asyariyyah An Nashiriyyah, yang disebut Rafidhah. Mereka bisa disebut Rafidhah (artinya: menolak) karena mereka menolak Zaid bin ‘Ali ketika Zaid menolak berlepas diri dari Abu Bakr dan ‘Umar. Lantas Rafidhah menyelisihi dan menolak Zaid.
Jika di antara orang Syi’ah ada yang mengklaim dirinya sebagai muslim, maka mereka adalah muslim. Namun perlu dibuktikan klaim mereka. Siapa saja yang beribadah pada Allah semata (tidak berbuat syirik, pen), membenarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beriman pada wahyu yang diturunkan pada beliau, ia adalah muslim. Jika ia mengklaim dirinya muslim, namun ia menyembah Husain, menyembah Fatimah, menyembah Badawi, menyembah ‘Aidarus dan selainnya, maka jelas ia bukan muslim. Kita mohon pada Allah keselamatan.
Begitu pula jika di antara  mereka ada yang mencela Islam atau meninggalkan shalat, walau ia mengatakan bahwa ia muslim, hakekatnya ia bukan muslim. Atau di antara mereka ada yang mengolok-olok Islam, mengolok-olok ajaran shalat, zakat, puasa atau mengolok-olok Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mendustakan beliau, atau mengatakan bahwa beliau itu bodoh, atau menyatakan bahwa risalah Muhammad belumlah sempurna atau beliau tidak menyampaikan ajaran Islam dengan jelas, maka itu semua menunjukkan kekufuran.
Nas-alullah al ‘aafiyah, kita mohon kepada Allah keselamatan.
[Diterjemahkan dari website resmi Syaikh Ibnu Baz: http://www.binbaz.org.sa/mat/4170]
Alhamdulillahilladzi bin ni’matihi tatimmush sholihaat. Allahumma innaa nas-aluka ‘ilman naafi’a. Segala puji bagi Allah yang dengan segala nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna. Ya Allah, kami memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat.

@ Ummul Hamam, Riyadh, KSA
Yauma tasu’a, 9 Muharram 1433 H

Sekelumit Tentang Suriah

Ada baiknya kita kembali merenungi kembali kecaman keras dari Syaikh Muhammad bin 'Abdul Wahhab Al 'Aqil Hafidzahullah terhadap kalangan Ikhwanul Muslimin Suriah yang mengadakan upaya pemberontakan pada pemerintahan Hafiz al-Assad (Ayah Bashar Al Assad, yang juga sama-sama Syiah dan Ba'ath) di kota Hama pada tahun 1982 (dikenal sebagai pembantaian Hama). Syaikh menjelaskan bahwa upaya pemberontakan yang Ikhwanul Muslimin lakukan (pada pemerintahan syiah-Ba'ath) merupakan tindakan ngawur karena justru menyebabkan jatuhnya korban dari kalangan Muslim. Berikut ucapan syaikh secara lengkap: "Kami pernah berjumpa dengan salah seorang da'i Al Ikhwanul Muslimun dari Siria di kota Madinah ini. Kami betanya: "Apa yang kalian dapatkan? Telah terbunuh ratusan ribu jiwa. Ratusan ribu wanita dirobek-robek kehormatannya, kemudian kalian lari?" Mereka berkata: "Kami hanya melakukan percobaan". Percobaan apa?! Takutlah kalian kepada Allah wahai suadaraku.! Engkau mencoba-coba sementara yang terbunuh ratusan ribu orang, apakah kalian tidak memiliki akal!? Apakah kalian tidak memiliki syari'at? Engkau mencoba sementara ratusan ribu jiwa dibantai?!"
(Dinukil dari buku "Mereka Adalah Teroris", hlm 167)

Fatwa Ulama Sunnah Tentang Usamah Bin Ladin



Fatwa Ulama Sunnah Tentang Usamah Bin Ladin


Bisa dikatakan sangat jarang di kalangan kaum muslimin yang akrab dengan media informasi yang tidak pernah mendengar nama Usamah bin Laden. Walau ia telah dikenal semenjak perang Afghanistan, namun namanya baru benar-benar mendunia semenjak runtuhnya Gedung WTC di Amerika Serikat, September 2001. Di antara kaum muslimin ada yang menyanjungnya, namun tidak sedikit pula mencelanya. Menyanjungnya, karena segala aksinya menjadi simbol jihad dan perlawanan terhadap kaum kuffar. Mencelanya, karena apa yang dilakukannya justru menimbulkan kemudlaratan yang sangat besar bagi kaum muslimin. Pemikirannya bertentangan dengan ’aqidah dan manhaj Ahlus-Sunnah.
Pada kesempatan kali ini, saya akan mencoba menuliskan kembali apa yang telah difatwakan oleh ulama Ahlus-Sunnah tentang Usamah bin Laden. Mereka adalah Asy-Syaikh ’Abdul-’Aziz bin ’Abdillah bin Baaz, Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’iyrahimahumallah, dan Asy-Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmiy hafidhahullah.

Fatwa Asy-Syaikh ’Abdul-’Aziz bin ’Abdillah bin Baaz rahimahullah :

أما ما يقوم به الآن محمد المسعري وسعد الفقيه وأشباههما من ناشري الدعوات الفاسدة الضالة فهذا بلا شك شر عظيم ، وهم دعاة شر عظيم ، وفساد كبير ، والواجب الحذر من نشراتهم ، والقضاء عليها ، وإتلافها ، وعدم التعاون معهم في أي شيء يدعو إلى الفساد والشر والباطل والفتن ؛ لأن الله أمر بالتعاون على البر والتقوى لا بالتعاون على الفساد والشر ، ونشر الكذب ، ونشر الدعوات الباطلة التي تسبب الفرقة واختلال الأمن إلى غير ذلك .
هذه النشرات التي تصدر من الفقيه ، أو من المسعري أو من غيرهما من دعاة الباطل ودعاة الشر والفرقة يجب القضاء عليها وإتلافها وعدم الالتفات إليها ، ويجب نصيحتهم وإرشادهم للحق ، وتحذيرهم من هذا الباطل ، ولا يجوز لأحد أن يتعاون معهم في هذا الشر ، ويجب أن ينصحوا ، وأن يعودوا إلى رشدهم ، وأن يدَعوا هذا الباطل ويتركوه .
ونصيحتي للمسعري والفقيه وابن لادن وجميع من يسلك سبيلهم أن يدَعوا هذا الطريق الوخيم ، وأن يتقوا الله ويحذروا نقمته وغضبه ، وأن يعودوا إلى رشدهم ، وأن يتوبوا إلى الله مما سلف منهم ، والله سبحانه وعد عباده التائبين بقبول توبتهم ، والإحسان إليهم ، كما قال سبحانه : { قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ * وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لا تُنْصَرُونَ} وقال سبحانه : {وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ } والآيات في هذا المعنى كثيرة
”Adapun yang dilakukan saat ini oleh Muhammad Al-Mis’ariy, Sa’d Al-Faqiih, dan yang semisal dengan keduanya dari kalangan penyebar seruan-seruan yang rusak lagi sesat, maka tidak diragukan lagi bahwa hal itu merupakan kejelekan yang sangat besar. Mereka semua adalah para penyeru kejelekan dan kerusakan yang besar. Dan wajib (bagi kaum muslimin) untuk waspada dari apa-apa yang telah mereka sebarkan, memusnahkannya, dan tidak bekerjasama dengan mereka dalam bentuk apapun yang mengajak pada kerusakan, kejelekan, kebathilan, dan fitnah. Hal itu disebabkan karena Allah (hanya) memerintahkan kita untuk bekerjasama dalam hal kebaikan dan ketaqwaan; tidak untuk bekerjasama dalam hal kerusakan, kejelekan, penyebaran kedustaan, dan penyebaran seruan-seruan bathil yang menyebabkan perpecahan dan kekacauan keamanan dan yang lainnya.
Selebaran-selebaran yang berasal dari (Sa’d) Al-Faqiih, (Muhammad) Al-Mis’ary, atau yang lainnya dari kalangan penyeru kebathilan, kejelekan, dan perpecahan; wajib untuk segera dimusnahkan dan tidak memberikan perhatian kepadanya. Wajib (bagi kita) untuk memberikan nasihat dan pengajaran kepada mereka terhadap kebenaran, serta memperingatkan mereka atas kebathilan ini. Tidak diperbolehkan bagi seorangpun untuk bekerjasama dengan mereka di atas kejelekan ini. Wajib bagi mereka kembali kepada petunjuk (kebenaran) dan meninggalkan kebathilan mereka itu semua.
Dan nasihatku kepada Al-Mis’ary, Al-Faqiih, (Usamah) bin Laden, dan semua kalangan yang mengikuti jejak langkah mereka untuk meninggalkan cara-cara yang jelek itu. Hendaknya mereka bertaqwa kepada Allah, waspada akan kemurkaan-Nya, kembali kepada kebenaran, dan bertaubat kepada Allah dari apa-apa yang telah mereka perbuat sebelumnya. Allah subhaanahu wa ta’ala telah berjanji kepada hamba-Nya yang bertaubat untuk menerima taubatnya dan berbuat baik kepada mereka , sebagaimana firman-Nya : Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi) [QS. Az-Zumar : 53-54]. Dan juga firman-Nya yang lain : ”Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung” [QS. An-Nuur : 31]. Dan ayat-ayat yang semakna dengan ini adalah banyak”.
[selesai – Majalah Al-Buhuuts Al-Islamiyyah nomor 50 halaman 7-17].
Dalam lain kesempatan Asy-Syaikh Ibnu Baaz rahimahullah juga pernah berkata :
أن أسامة بن لادن من المفسدين في الأرض، ويتحرى طرق الشر الفاسدة وخرج عن طاعة ولي الأمر.
”Bahwasannya Usamah bin Laden termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi, dimana ia telah memilih jalan-jalan kejelekan lagi rusak dan telah keluar dari ketaatan terhadap waliyyul-amri”.
[selesai – surat kabar Al-Muslimuun dan Asy-Syarqul-Ausath tanggal 9 Jumadil-Ula 1417 H].

Fatwa As-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’iy rahimahullah.

أبرأ إلى الله من بن لادن فهوشؤم وبلاء على الأمة وأعمــاله شر
”Aku berlepas diri kepada Allah dari Ibnu Laden. Ia adalah kejahatan dan bencana bagi umat, dan perbuatan-perbuatan (yang telah dilakukannya) termasuk perbuatan yang buruk”
[selesai – surat kabar Ar-Ra’yul-’Aam Al-Kuwaitiyyah tanggal 19-12-1998 nomor 11503].
Dalam pertemuan yang sama disebutkan :
السائل : الملاحظ أن المسلمين يتعرضون للمضايقات في الدول الغربية بمجرد حدوث انفجار في أي مكان في العالم ؟
أجاب الشيخ مقبل : أعلم ذلك ، وقد اتصل بي بعض الأخوة من بريطانيا يشكون التضييق عليهم ، ويسألون عما إذا كان يجوز لهم إعلان البراءة من أسامة بن لادن ، فقلنا لهم تبرأنا منه ومن أعماله منذ زمن بعيد ، والواقع يشهد أن المسلمين في دول الغرب مضيق عليهم بسبب الحركات التي تغذيها حركة الإخوان المفلسين أو غيرهم ، والله المستعان .
السائل : ألم تقدم نصيحة إلى أسامة بن لادن ؟
أجاب الشيخ : لقد أرسلت نصائح لكن الله أعلم إن كانت وصلت أم لا ، وقد جاءنا منهم أخوة يعرضون مساعدتهم لنا وإعانتهم حتى ندعو إلى الله ، وبعد ذلك فوجئنا بهم يرسلون مالا ويطلبون منا توزيعه على رؤساء القبائل لشراء مدافع ورشاشات ، ولكنني رفضت عرضهم ، وطلبت منهم ألا يأتوا إلى منزلي ثانية ، وأوضحت لهم أن عملنا هو دعوي فقط ولن نسمح لطلبتنا بغير ذلك
Penanya : Kita dapati bahwasannya kaum muslimin mendapatkan banyak tekanan di negara barat akibat adanya satu peledakan di tempat manapun muka bumi ini ?
Asy-Syaikh Muqbil menjawab : ”Aku telah mengetahui hal itu. Dan sungguh aku telah dihubungi oleh beberapa ikhwan yang tinggal di Inggris yang mengeluhkan banyaknya tekanan yang menimpa mereka. Dan mereka bertanya apakah diperbolehkan bagi mereka untuk mengumumkan sikap bara’ah (berlepas diri) dari apa yang diperbuat Usamah bin Laden. Maka kami pun menjawab bahwa kami berlepas diri darinya dan apa yang telah ia perbuat jauh sebelum adanya peristiwa-peristiwa ini. Realitas telah menyaksikan bahwasannya kaum muslimin yang tinggal di negara barat mengalami banyak tekanan dengan sebab pergerakan-pergerakan yang diperankan oleh harakah Al-Ikhwanul-Muslimun (IM) dan yang selain mereka. Wallaahul-Musta’an.
Penanya : Apakah tidak sebaiknya Anda memberikan nasihat kepada Usamah bin Ladin ?
Asy-Syaikh Muqbil kembali menjawab : ”Aku telah memberikan beberapa nasihat tentang hal itu. Akan tetapi – wallahu a’lam – apakah nasihat itu sampai kepadanya atau tidak. Dan sungguh telah datang kepada kami beberapa orang dari mereka menawarkan bantuan kepada kami untuk berdakwah. Namun setelah itu kami dikejutkan dengan sikap mereka yang mengirimkan sejumlah uang dan meminta kepada kami untuk membagi-bagikan kepada para pemimpin kabilah/suku untuk pembelian tank-tank dan senjata-senjata. Aku menolak tawaran mereka dan aku meminta mereka agar tidak lagi datang menginjak rumahku. Aku jelaskan kepada mereka bahwasannya aktivitas kami hanyalah aktifitas dakwah saja. Kami tidak akan pernah mengijinkan kepada murid-murid kami untuk beraktifitas selain aktifitas dakwah”.
[selesai - surat kabar Ar-Ra’yul-’Aam Al-Kuwaitiyyah tanggal 19-12-1998 nomor 11503].
Asy-Syaikh Muqbil juga pernah berkata dalam kitabnya Tuhfatul-Mujiib hasil transkrip sebuah ceramah beliau tertanggal 18 Shaffar 1428 dengan judul : ”Dibalik Peristiwa Peledakan-Peledakan di Bumi Haramain” :
وكذلك إسناد الأمور إلى الجهال، فقد روى البخاري ومسلم في “صحيحيهما” عن عبدالله بن عمرو رضي الله عنهما قال: قال رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم : (( إنّ الله لا يقبض العلم انتزاعًا ينتزعه من العباد، ولكن يقبض العلم بقبض العلماء، حتّى إذا لم يبق عالمًا اتّخذ النّاس رءوسًا جهّالاً، فسئلوا فأفتوا بغير علم فضلّوا وأضلّوا )).
كما يقال: العالم الفلاني ما يعرف عن الواقع شيئًا، أو عالم جامد، تنفير، كما تقول مجلة “السنة” التي ينبغي أن تسمى بمجلة “البدعة”، فقد ظهرت عداوتها لأهل السنة من قضية الخليج.
وأقول: إن الناس منذ تركوا الرجوع إلى العلماء تخبطوا يقول الله عز وجل: {وإذا جاءهم أمر من الأمن أو الخوف أذاعوا به ولو ردّوه إلى الرّسول وإلى أولي الأمر منهم لعلمه الّذين يستنبطونه منهم }، وأولي الأمر هم العلماء والأمراء والعقلاء الصالحون.
وقارون عند أن خرج على قومه في زينته قال أهل الدنيا: {يا ليت لنا مثل ما أوتي قارون إنّه لذو حظّ عظيم * وقال الّذين أوتوا العلم ويلكم ثواب الله خير لمن آمن وعمل صالحًا ولا يلقّاها إلاّ الصّابرون }.
والعلماء يضعون الأشياء مواضعها: {وتلك الأمثال نضربها للنّاس وما يعقلها إلاّ العالمون }، {إنّ في ذلك لآيات للعالمين }، {إنّما يخشى الله من عباده العلماء }، {يرفع الله الّذين آمنوا منكم والّذين أوتوا العلم درجات }. فهل يرفع الله أهل العلم أم أصحاب الثورات والانقلابات وقد جاء في “صحيح البخاري” عن أبي هريرة رضي الله عنه أنّ النّبيّ سئل: متى السّاعة؟ فقال: (( إذا وسّد الأمر إلى غير أهله فانتظر السّاعة)) رئيس حزب وهو جاهل.
ومن الأمثلة على هذه الفتن الفتنة التي كادت تدبر لليمن من قبل أسامة بن لادن إذا قيل له: نريد مبلغ عشرين ألف ريال سعودي نبني بها مسجدًا في بلد كذا . فيقول: ليس عندنا إمكانيات، سنعطي إن شاء الله بقدر إمكانياتنا. وإذا قيل له: نريد مدفعًا ورشاشًا وغيرهما. فيقول: خذ هذه مائة ألف (أو أكثر) وإن شاء الله سيأتي الباقي )) أهـ .
“….Begitu juga adanya penyandaran perkara-perkara umat kepada orang-orang jahil. Sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari ’Abdullah bin ’Umar radliyallaahu ’anhaa : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam :”Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu dengan sekali cabutan dari manusia. Akan tetapi Allah akan mencabut ilmu dengan mewafatkan ulama, hingga apabila tidak tersisa lagi seorang yang ’alim, maka manusia akan menyerahkan berbagai urusannya kepada orang-orang bodoh. Maka mereka (orang-orang bodoh tersebut) ditanya dan mereka pun berfatwa tanpa landasan ilmu. Sesatlah ia dan menyesatkan orang lain”.
Seperti yang dikatakan (oleh pengikut hawa nafsu) bahwa orang alim (ulama) ini dia tidaklah mengetahui realitas umat barang sedikitpun, atau dijuluki sebagai seorang ’alim yang jumud. Hal itu mereka lakukan dalam rangka menjatuhkan kredibilitas dan menjauhkannya dari umat, sebagaimana hal itu pernah termuat dalam Majalah As-Sunnah [1] – semestinya majalah tersebut diberi nama Al-Bid’ah – yang telah nampak jelas permusuhannya kepada Ahlus-Sunnah sejak pecahnya Perang Teluk.
Dan aku katakan : Sesungguhnya kaum muslimin ketika mereka mulai meninggalkan sikap ruju’ kepada ulama’, akhirnya mereka tersesat. Allah ’azza wa jalla telah berfirman :”Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan atau pun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri).” [QS. An-Nisaa’ : 83]. Dan yang dimaksud dengan ulil-amri di sini adalah ulama, umara’, dan ’uqalaa’ (orang-orang yang berakal/pandai) yang shalih.
Begitu pula peristiwa yang terjadi pada masa Qarun, ketika dia keluar di hadapan kaumnya dengan menampilkan segala kekayaannya, maka orang-orang yang cinta dunia menyatakan : ”Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Karun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar”. Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: “Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu kecuali oleh orang-orang yang sabar” [QS. Al-Qashshash : 79-80].
Sementara para ulama meletakkan perkara sesuai pada tempatnya masing-masing. Allah ’azza wa jalla berfirman : ”Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.” [QS. Al-Ankabuut : 41]. ”Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui” [QS. Ar-Ruum : 22]. ”Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” [QS. Faathir : 28]. ”Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”[QS. Al-Mujaadilah : 11]. Siapakah gerangan yang diangkat oleh Allah, para ulama ataukah para pelaku geralan revolusi dan kudeta ? Telah disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari dari shahabat Abu Hurairah radliyallaahu ’anhu, bahwasannya Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam pernah ditanya : ”Kapankah terjadinya hari Kiamat ?”. Maka beliau menjawab : ”Jika setiap urusan telah diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kedatangan hari kiamat tersebut !”. Kebanyakan para pemimpin hizb (partai/kelompok) itu adalah orang yang bodoh.
Dan permisalan dari fitnah ini adalah adalah fitnah yang hampir menguasai Yaman yang dihembuskan oleh Usamah bin Laden, yang apabila datang seseorang mengatakan kepadanya : ”Kami membutuhkan dana sebesar 20 ribu real Saudi untuk membangun sebuah masjid di tempat tertentu”; maka ia (Usamah) akan menjawab : ”Kami tidak memiliki kemampuan untuk menyediakan dana tersebut. InsyaAllah kami akan memberikan sebatas kemampuan kami”. Namun apabila dikatakan kepadanya : ”Kami membutuhkan tank-tank, senjata-senjata, dan yang lainnya”; maka dia akan menjawab : ”Silakan ambil dana ini senilai 100 ribu real Saudi (atau lebih) dan InsyaAllah akan menyusul tambahan berikutnya”.
[selesai].

Fatwa Asy-Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmi hafidhahullah :

Asy-Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmi pernah ditanya : ”Semoga Allah memberikan kebaikan kepada Anda, telah sah dari Nabi ’alaihish-shalatu was-salaam bahwasannya beliau pernah bersabda : ”Allah melaknat orang-orang yang melindungi para pelaku bid’ah”. Apakah hadits ini dapat diterapkan pada negara Thaliban ? Khususnya ketika mereka melindungi Khawarij dan menyiapkan untuk mereka sebuah markas ketentaraan yang dikenal dengan Markaz Al-Faruq yang dipimpin oleh Usamah bin Laden, dan di dalamnya terdapat 4 devisi pasukan : Devisi Mu’tam, Devisi Syahrani, Devisi Hajiri, dan Devisi Sa’id. Keempat devisi tersebut adalah pihak yang melakukan peledakan di daerah ’Ulayya, serta mengkafirkan pemerintah dan ulama negeri ini (Saudi) ?
Maka Asy-Syaikh menjawab :
لا شك أن هؤلاء يعتبروا محدثين،و هؤلاء الذين آووهم داخلون في هذا الوعيد الذي قاله النبي صلى الله عليه وسلم و اللعنة التي لعنها من فعل ذلك، (( لعن الله من آوى محدثاً )) فلو أن واحداً قتل بغير حق و أنت أويته و قلت لأصحاب الدم ما لكم عليه سبيل و منعتهم ، ألست تعتبر مؤوياً للمحدثين ! )) أهـ.
”Tidak diragukan lagi bahwasannya mereka termasuk muhditsiin. Dan mereka yang telah melindungi kelompok tersebut tentunya masuk dalam ancaman sebagaimana yang telah disabdakan oleh Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam. Dan laknat juga ditimpakan kepada orang yang melindungi mereka : ”Allah melaknat orang yang melindungi pelaku bid’ah”. Apabila ada seorang yang terbunuh tanpa haq, dan engkau kemudian melindunginya dengan mengatakan kepada keluarga korban : ”Kalian tidak berhak untuk berbuat apa-apa terhadap pembunuh ini. Bukankah dengan tindakan ini engkau termasuk golonganmuhditsiin (pelaku bid’ah) ?”
[selesai].

Kamis, 05 Juli 2012

Runtuhnya Syubuhat Pendirian TN (Tarbiyatun Nisa) -www.isnad.net-

بسم الله الرحمن الرحيم

Hujjah-Hujjah Yang Tegak
Untuk Meruntuhkan Syubuhat-syubuhat
Pendirian Tarbiyatun Nisa

Penulis :
Abu Abdirrohman Utsman As Semarangy
~ Semoga Alloh Subhanahu wa Ta’ala menjaganya ~
Darul Hadits Damaj – 5 Sya’ban 1433 H
Ulasan Tentang
  1. Fatwa para ulama tentang bolehnya wanita keluar dari rumah seluruhnya berputar dalam lingkup dhoruroh/terpaksa atau karena keperluan yang mendesak.
  2. Pendidikan untuk wanita ditempat yang khusus, tanpa mahrom, dalam jumlah yang banyak, tinggal dalam waktu bertahun-tahun, termasuk bid’ah. Berfatwa dengannya Syaikh Yahya al-Hajury hafizohulloh , mengisyaratkan dengan yang demikian Syaikh Albany rohimahulloh dan Al lajnah ad daimah ( Syaihk Abdul ‘aziz bin abdillah bin baz rohimahulloh , Syaikh Abdurrozaq ‘afifi rohimahulloh , Syaikh Abdulloh bin ghodyan hafizohulloh serta tidak ada TN atau semisal TN di markaz Syaikh Muqbil al-Wadi’iy rohimahulloh .
الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا من يهد الله فهو المهتد ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله.
أما بعد:فإن خير الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد صَلَّى الله عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ وشر الأمور محدثاتُها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار.
وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله صلى الله عليه وعلى آله وسلم تسليماً كثيراً، أما بعد:
]يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ[[آل عمران:102].
]يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً[[النساء:1].
]يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً[[الأحزاب: 70-71].
Tulisan ini kami buat sebagai nasehat untuk diri kami sendiri, kemudian untuk Abu hazim dan para ikhwah pengelola Tarbiyatun Nisa’ (disingkat TN) serta kaum muslimin pada umumnya, sebagai perwujudan firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala didalam Alqur’an
وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)
  1. Demi masa.
  2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
  3. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.
Dan hadits Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam :
عن أبي تميم بن أوس رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال ” الدين النصيحة قلنا لمن ؟ قال : لله ولرسوله وللأئمة المسلمين و عامتهم ” رواه البخاري ومسلم .
Dari Tamim bin aus rodhiallohu ‘anhu bahwa Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam berkata: agama itu adalah nasehat. Maka kami berkata : untuk siapa? Maka beliau menjawab: untuk Alloh Subhanahu wa Ta’ala, dan untuk rosulNya dan untuk para penguasa muslimin dan untuk seluruh kaum muslimin.(riwayat Bukhori dan Muslim)
Dan juga pesan dari Syaih Yahya bin ali Al hajury hafizohulloh  kira-kira satu pekan sebelum tulisan ini selesai diketik yaitu agar menasehati Abu hazim dan ikhwah yang mengelola TN bahwa  TN itu muhdats atau bid’ah.
Kami bawakan dalam tulisan ini syubhat-syubhat mereka para pengelola TN berikut bantahannya -bi idznillah ta’ala- dari alqur’an dan sunnah serta kami nukilkan fatwa-fatwa ulama.
Sengaja penulis membantah syubhat-syubhat para pengelola TN di banyak tempat (di tulisan ini) dengan perkataan para ulama di fatwa-fatwa mereka mim bab (dalam bab)
{فَمَنِ اعْتَدَى عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُوا عَلَيْهِ بمِثْلِ مَا اعْتَدَى عَلَيْكُمْ}
{وإنْ عَاقَبْتُم فَعَاقِبُوا بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُم بِهِ}
Karena tidaklah ada yang menjadi hujah mereka para pengelola TN kecuali dengan menukil fatwa ulama, seenak maunya, dengan pemahaman yang jauh, jauh, dan jauh dari apa yang dimaksud oleh para ulama itu sendiri. Wallohul musta’an, maka sepantasnya bagi kita untuk inshof dan mendudukan perkara pada tempatnya agar tidak terkecoh saudara-saudara kita dengannya. Sebagai contoh : mereka bawakan fatwa Syaih Bin baz, maka kami bawakan fatwa beliau di tempat yang lain bahwa maksudnya demikian, demikian juga fatwa Syaih Muqbil alwadi’i ,dst, dengan tetap kami berusaha untuk menyebutkan dalil-dalil serta kaidah-kaidah yang berkaitan dengan pembahasan ini.
Kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala kami serahkan urusan kami, wala khaula wala quwwata illa billah. Semoga Alloh Subhanahu wa Ta’ala memberikan kita semua keihlasan didalam beramal serta taufiq didalam menempuh jalanNya yang lurus sampai nafas kita yang terakhir.
Moqodimah / Pembukaan.
Tentang :
  • Wajibnya amar ma’ruf dan nahi mungkar.
  • Diamnya wanita di rumahnya.
  • Wajibnya amar ma’ruf dan nahi mungkar.
Perlunya ilmu didalam amar ma’ruf dan nahi mungkar..
Wajib bagi seorang dai yang hendak amar ma’ruf nahi mungkar untuk berbekal ilmu sebagaimana firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala :
قُلْ هَـذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَاْ وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللّهِ وَمَا أَنَاْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
108. Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha suci Allah, dan aku tiada Termasuk orang-orang yang musyrik”.(surat Yusuf, 108)
Berkata Al imam Assa’di didalam tafsirnya “berkata Alloh Subhanahu wa Ta’ala kepada Nabi Muhammadd shollallohu ‘alaihi wasallam : katakan kepada seluruh manusia (ini adalah jalanku) yakni jalan yang aku menyeru kepadanya yaitu jalan menuju Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan janah Nya, diatas ilmu yang haq dan beramal dengannya serta memuliakan ilmu, bersama dengan keihlasan hanya kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala. (aku menyeru kepada Alloh) yakni aku anjurkan  seluruh mahluk dan hamba Nya untuk menuju kepada Rob mereka, dan memperingatkan mereka dari hal-hal yang membuat mereka jauh dari Alloh Ta’ala. Dan bersamaan itu maka aku (diatas bashiroh) didalam agamaku yakni diatas ilmu dan keyakinan tanpa keraguan dan perdebatan serta kedustaan. (demikian juga orang-orang yang mengikutiku) menyeru kepada Alloh Ta’ala sebagaimana aku menyeru diatas petunjuk didalam urusannya. (dan maha suci Alloh) dari apa yang aku katakan tentang Alloh Ta’ala yang tidak sesuai dengan kebesaran dan keutamaan Nya. (dan bukanlah aku dari orang-orang yang musyrik) didalam seluruh urusanku bahkan aku menyembah Alloh Ta’ala dengan ihlas.(selesai)
Ilmu adalah apa-apa yang bersumber dari Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan Rosul Nya, maka dengan ilmu yang dia miliki seorang dai mampu untuk memilah milah mana itu perintah dan mana itu larangan didalam agama, serta mengetahui jalan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam dalam amar ma’ruf nahi mungkar demikian juga jalan para shahabatnya rodhiallohu ‘anhum serta jalan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.
Berkata Al imam As sa’diy rahimahulloh ditafsir beliau surat al imron ayat 187  :
وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلَا تَكْتُمُونَهُ فَنَبَذُوهُ وَرَاءَ ظُهُورِهِمْ وَاشْتَرَوْا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا فَبِئْسَ مَا يَشْتَرُونَ (187)
الميثاق هو العهد الثقيل المؤكد، وهذا الميثاق أخذه الله تعالى على كل من أعطاه [الله] الكتب وعلمه العلم، أن يبين للناس ما يحتاجون إليه مما علمه الله، ولا يكتمهم ذلك، ويبخل عليهم به، خصوصا إذا سألوه، أو وقع ما يوجب ذلك، فإن كل من عنده علم يجب عليه في تلك الحال أن يبينه، ويوضح الحق من الباطل.
فأما الموفقون، فقاموا بهذا أتم القيام، وعلموا الناس مما علمهم الله، ابتغاء مرضاة ربهم، وشفقة على الخلق، وخوفا من إثم الكتمان.وأما الذين أوتوا الكتاب، من اليهود والنصارى ومن شابههم، فنبذوا هذه العهود والمواثيق وراء ظهورهم، فلم يعبأوا بها، فكتموا الحق، وأظهروا الباطل، تجرؤا على محارم الله، وتهاونا بحقوق الله، وحقوق الخلق، واشتروا بذلك الكتمان ثمنا قليلا وهو ما يحصل لهم إن حصل من بعض الرياسات، والأموال الحقيرة، من سفلتهم المتبعين أهواءهم، المقدمين شهواتهم على الحق،
فأما الموفقون، فقاموا بهذا أتم القيام، وعلموا الناس مما علمهم الله، ابتغاء مرضاة ربهم، وشفقة على الخلق، وخوفا من إثم الكتمان.وأما الذين أوتوا الكتاب، من اليهود والنصارى ومن شابههم، فنبذوا هذه العهود والمواثيق وراء ظهورهم، فلم يعبأوا بها، فكتموا الحق، وأظهروا الباطل، تجرؤا على محارم الله، وتهاونا بحقوق الله، وحقوق الخلق، واشتروا بذلك الكتمان ثمنا قليلا وهو ما يحصل لهم إن حصل من بعض الرياسات، والأموال الحقيرة، من سفلتهم المتبعين أهواءهم، المقدمين شهواتهم على الحق،
Almiitsaq adalah perjanjian yang berat lagi tegas, dan perjanjian ini Alloh Subhanahu wa Ta’ala ambil dari setiap orang yang telah Dia berikan kitab-kitab dan Dia berikan ilmu, untuk menjelaskan kepada manusia apa-apa yang mereka perlukan dari ilmu yang dia ketahui dan tidak menyembunyikannya ataupun bakhil padanya, terlebih lagi kalau manusia bertanya kepadanya atau terjadi sesuatu yang wajib baginya menjelaskan kepada mereka. Maka sesungguhnya dalam keadaan yang seperti ini wajib atas orang yang mempunyai ilmu untuk menunjuki manusia dan menjelaskan mereka antara yang haq dan yang bathil.
Adapun para pemilik ilmu yang menepati janji, maka mereka melaksanakan kewajiban ini dengan sebaik-baiknya, dan mereka mengajari manusia dengan apa yang telah Alloh Subhanahu wa Ta’ala ajarkan mereka, dengan semata-mata mengharapkan keridho’an Rob mereka, dan kasih sayang kepada mahluk, serta takut dari dosa menyimpan ilmu.
Adapun ahlul kitab dari golongan Yahudi dan Nashoro dan yang semisal mereka, melempar perjanjian dan persaksian ini semua di belakang punggung-punggung mereka sambil meremehkannya. Maka mereka menyembunyikan alhaq dan menampakkan kebatilan serta berani untuk terjerumus didalam apa-apa yang Alloh Subhanahu wa Ta’ala haromkan, bermudah-mudah didalam hak-hak Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan hak-hak mahlukNya. Mereka membeli penyembunyian ilmu ini dengan harga yang rendah, yaitu berupa pangkat/kedudukan itupun kalau mereka dapatkan, serta harta dunia yang hina dari orang-orang rendah para pengikut hawa nafsu yang mendahulukan syahwat mereka atas kebenaran.
Pendorong amar ma’ruf nahi munkar :
Berkata al imam Ibnu rajab al hanbaly didalam kitab beliau jami’ul ulum wal hikam di dalam pembahasan hadits nomer 34:
واعلم أن الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر تارة يحمل على رجاء ثوابه وتارة خوف العقاب في تركه وتارة الغضب لله على انتهاك محارمه وتارة النصيحة للمؤمنين والرحمة لهم ورجاء إنقاذهم مما أوقعوا أنفسهم فيه من التعرض لعقوبة الله وغضبه في الدنيا والآخرة وتارة يحمل عليه إجلال الله وإعظامه ومحبته وأنه أهل أن يطاع ويذكر فلا ينسي ويشكر فلا يكفر وأنه يفتدي من انتهاك محارمه بالنفوس والأموال.
Ketahuilah bahwa amar ma’ruf nahi mungkar diantara pendorongnya adalah mengharapkan pahala dari Alloh Subhanahu wa Ta’ala, takut dari siksaannya jika meninggalkannya, atau marah karena Alloh Subhanahu wa Ta’ala dikarenakan larangan-laranganNya diinjak-injak atau nasehat untuk mukminin dan rohmah kepada mereka serta berharap agar mereka terlepas dari apa-apa yang mereka jatuh didalam hal-hal yang menyebabkan siksaan dan kemurkaan Alloh Subhanahu wa Ta’ala didunia dan akherat, atau karena mengagungkan Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan mencintaiNya serta meyakini bahwa Dialah yang ditaati, diingat bukannya dilupakan, disyukuri bukannya diingkari, diserahkan jiwa dan hartanya daripada dinjak-injak larangan-laranganNya.
Sabar didalam amar ma’ruf nahi munkar.
Kemudian berkata rohimahulloh berikutnya:
كما قال بعض السلف وددت أن الخلق كلهم أطاعوا الله وأن لحمي قرض بالمقاريض وكان عبد الملك بن عمر بن عبدالعزيز يقول لأبيه وددت أني غلت بي وبك القدور في الله تعالى ومن لحظ هذا المقام والذي قبله هان عليه كل ما يلقي من الأذى في الله تعالى وربما دعا لمن آذاه كما قال ذلك النبي صلى الله عليه وآله وسلم لما ضربه قومه فجعل يمسح الدم عن وجهه ويقول رب اغفر لقومي فإنهم لا يعلمون
Sebagaimana perkataan sebagian salaf :”aku suka apabila semua mahluk taat kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala walaupun dagingku dipotong-potong dengan gunting”, berkata Abdulmalik bin umar bin abdul aziz kepada ayahnya :”aku suka apabila dididihkan air di panci yang besar untukku dan untuk engkau dijalan Alloh Subhanahu wa Ta’ala”. Maka barangsiapa yang memperhatikan kedudukan ini dan yang sebelumnya akan ringan bagi dia setiap gangguan yang dia dapatkan dijalan Alloh Subhanahu wa Ta’ala.
Bahkan kadangkala dia mendo’akan kebaikan bagi orang yang menyakiti dia sebagaimana perkataan Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam ketika kaumnya memukul dia sambil dia mengusap darah yang ada diwajahnya :”Ya Rob ampunilah kaumku karena sesungguhnya mereka tidak tahu”.
Hukum asal didalam amar ma’ruf nahi munkar adalah dengan lemah lembut.
Kemudian berkata rohimahulloh berikutnya:
وبكل حال فتبين الرفق في الإنكار قال سفيان الثوري لا يأمر بالمعروف ولا ينهي عن المنكر إلا من كان فيه ثلاث خصال رفيق بما يأمر رفيق بما ينهي عدل بما يأمر عدل بما ينهي عالم بما يأمر عالم بما ينهي وقال أحمد الناس محتاجون إلى مداراة ورفق الأمر بالمعروف بلا غلظة إلا رجل ملعن بالفسق فلا حرمة له قال وكان أصحاب ابن مسعود إذا مروا بقوم يرون منهم ما يكرهون يقولون مهلا رحمكم الله مهلا رحمكم الله وقال أحمد يأمر بالرفق والخضوع فإن أسمعوه ما يكره لا يغضب فيكون يريد أن ينتصر لنفسه والله أعلم
Perlu diperhatikan disini adanya kelembutan didalam mengingkari kemungkaran, berkata Sufyang atstsaury : “tidaklah berhak untuk amar ma’ruf nahi mungkar kecuali orang-orang yang mempunyai tiga perkara lembut didalam amar ma’ruf lembut didalam nahi mungkar, adil didalam amar ma’ruf adil didalam nahi mungkar, punya ilmu didalam amar ma’ruf punya ilmu didalam nahi mungkar”.
Berkata al imam Ahmad :”manusia membutuhkan penyikapan yang baik dan kelembutan, amar ma’ruf tanpa kekerasan kecuali seseorang yang mengumumkan kafasikan maka tidak ada kehormatan bagi dia” dan beliau berkata:”adalah para sahabat Ibnu mas’ud apabila bertemu suatu kaum yang melakukan sesuatu yang mereka tidak sukai berkata “tinggalkanlah oleh kalian ini semua semoga Alloh Subhanahu wa Ta’ala merohmati kalian, tinggalkanlah oleh kalian ini semua semoga Alloh Subhanahu wa Ta’ala merohmati kalian”. dan beliau berkata juga:”amar ma’ruf dengan kelembutan dan tawadhuk, apabila mereka memperdengarkan sesuatu yang tidak mengenakkan jangan marah, seakan-akan hendak membela diri dia sendiri”.walloh a’lam.
Diamnya wanita di rumahnya.
Keutamaan wanita untuk tinggal dirumah dan tidak keluar dari rumah kecuali adanya keperluan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah pencipta kita dan Dia mengetahui apa-apa yang pantas untuk kita semua didalam mengarungi kehidupan kita didunia ini, Alloh Subhanahu wa Ta’ala maha lembut terhadap keadaan kita
أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ
14. Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan atau rahasiakan)?; dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui.(al mulk: 14)
Diantara kebahagiaan seseorang adalah dengan menaati ketentuan-ketentuan yang diatur oleh penciptanya dan apa-apa yang Dia pilih, ini semua adalah maslahat bagi hamba didunia dan kebahagiaannya diakherat.
Dan diantara apa-apa yang Alloh Subhanahu wa Ta’ala syareatkan adalah dijadikannya rumah sebagai sepak terjang bagi wanita, ini adalah kemuliaan yang Allah pilih untuk mereka, yang mana mereka para wanita tidak dibebani nafaqoh ataupun keluar untuk mencari rezeki akan tetapi ini semua adalah tanggung jawab wali mereka.
Berfirman Alloh Subhanahu wa Ta’ala :
يَا نِسَاء النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِّنَ النِّسَاء إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلاً مَّعْرُوفاً
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيراً
32. Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah Perkataan yang baik,
33. dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, Hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.
Berkata Al imam Ibnu katsir
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ
Yakni tinggallah kalian wahai para wanita dirumah-rumah kalian, tidak boleh bagi kalian pergi dari rumah untuk sesuatu yang tidak ada keperluannya.
Berkata Alimam Alqurthuby (aljami’ liahkamil qur’an) walaupun rentetan pembicaraan adalah untuk istri-istri Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam ,tetapi telah masuk didalamnya juga segenap kaum wanita muslimah secara makna….dan diantara tujuan dari ayat adalah untuk menyelisihi orang-orang yang sebelum mereka dari menunjukkan keindahan mereka dihadapan laki-laki, dsb dari apa-apa yang tidak boleh secara syar’I ,hendaklah mereka tetap dirumah , apabila butuh kepada keperluan diluar hendaknya dalam keadaan bersungguh-sungguh dan berhijab dengan sempurna. Selesai.
Sebagaian mereka ada yang  menganggap bahwa khitob khusus untuk istr-istri Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam, disebabkan Alloh Subhanahu wa Ta’ala mengajak bicara mereka atas sisi khusus, maka wajib untuk membatasi hukum bagi mereka istri-istri Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam saja dan tidak mencakup secara umum.
Menjawab syaih Ibnu baz Rahimahulloh syubhat ini : apabila Alloh Subhanahu wa Ta’ala melarang ummahatil mukminin dari hal hal yang mungkar bersamaan dengan kebaikan mereka , iman-iman mereka dan kesuciaan mereka, maka selain mereka lebih utama untuk diperingatkan, diingkari, dan lebih ditakutkan bab-sebab fitnah …dan diantara dalil yang menunjukkan bahwa khitob adalah tertuju kepada seluruh mukminah adalah perkataan Alloh Subhanahu wa Ta’ala selanjutnya diayat itu sendiri
وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ
Karena perintah-perintah itu adalah hukum-hukum yang umum untuk istri-istri Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam dan selain mereka.
Dan berkata beliau rohimahulloh ditempat yang lain.
{ وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ }الآية , فإن هذه الآية تعمهن وغيرهن بالإجماع.
Maka sesungguhnya ayat ini mencakup istri-istri Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam dan selainnya dari para muslimah dengan ijma’.
Pembahasan
Syubhat-syubhat mereka didalam mendirikan atau mengembangkan Tarbiyatun Nisa’ (TN) :
  1. Berkata Abu hazim : …. jika pertanyaan seperti itu dak perlu tanya ke Syaih, tanya saja ke orang NU, mereka super licik.
  2. Berkata Abu hazim :  Masalah TN dulu Syaih Yahya membolehkan jika ada mahrom…..
  3. Fatwa Syaih bin Baz rohimahulloh  tentang bolehnya wanita tinggal diluar daerahnya untuk bekerja tanpa mahrom apabila tempat itu khusus bagi wanita.
  4. Fatwa Syaih Muqbil bin hady alwadi’i rohimahulloh tentang bolehnya wanita tinggal diluar daerahnya untuk menuntut ilmu tanpa mahrom apabila tempat itu khusus bagi wanita.
  5. Ta’liq Syaih Albany rohimahulloh  terhadap kitab fiqhus sunnah.
  6. Berkata Abu hazim : Apa ada di zaman salaf pondok laki-laki, mereka para shohabat tinggal di masjid, kalau dikatakan bahwa TN muhdats.
Berikut ini adalah bantahan terhadap syubhat-syubhat itu dengan pertolongan dan kekuatan dari Alloh Subhanahu wa Ta’ala semata.

SYUBUHAT PERTAMA

Berkata Abu hazim : …. jika pertanyaan seperti itu dak perlu tanya ke Syaih, tanya saja ke orang NU, mereka super licik.
Secara lengkap berkata dia :
Masalah TN dulu Syaih Yahya membolehkan jika ada mahrom, mereka dak terima lalu mereka mengatakan bahwa TN, ikhtilath, akhwatnya suruh nyuci sempak ustadz, nadzor tanpa mahrom, jika akhwat kena jin maka ustadz mijat-mijat akhowat dsb, jika pertanyaan seperti itu dak perlu tanya ke Syaih, tanya saja ke orang NU, mereka super licik.
Bantahan :
Setelah para pembaca mengetahui tentang keutamaan Amar ma’ruf nahi mungkar yang penulis bawakan di Moqodimah dari perkataan para ulama dan kewajiban bagi para pemikul amanah dakwah untuk menegakkannya, maka runtuhlah syubhat dia ini bahwa apa yang dilakukan orang-orang yang tidak ridho dengan kemungkaran TN “super licik”, karena mereka lakukan ini semua sebagai wujud pelaksanaan amanah agama. Bahkan dilain sisi Abu hazim telah menimpakan tuduhan yang keji terhadap saudaranya sebagai orang yang licik, apa keuntungan mereka dari ini semua? Tidaklah yang mereka cari kecuali ridho Alloh Subhanahu wa Ta’ala -insya Alloh- bukan yang lainnya. Penjelasan mereka tentang keadaan TN yang sebenarnya adalah berkaitan dengan TN secara umum bukan dikhususkan untuk dia, walaupun ditakutkan terjadi ditempat dia juga -berkata Abu hazim kepada Syaih Yahya bahwa ditempat dia tidak ada mukholafat syar’iyah, dan telah terbukti bahwa diantara santriwati dia ada yang tidak ada mahromnya-, perlu diketahui bahwa sebagian gambaran yang disebutkan Abu hazim tidak mereka sebutkan dihadapan Syaih Yahya sebagaimana dituduhkan dan sangat tidak pantas kalau itu terjadi di TN.
Dan sudah dikenal dikalangan para penuntut ilmu bahwa
حسن السؤال نصف الجواب
Bagusnya pertanyaan sebagai separo dari jawaban.
Bagaimana mungkin (sebagai misal) seseorang bertanya tentang bagaimana hukum membaca surat Yasin, boleh atau tidak? Tanpa merinci bahwa itu dilakukan khusus di malam jum’at dengan disertai acara kenduri dengan dimaksudkan taqorub kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Tidak perlu bertanya kepada Syaih Yahya, ditanyakan saja kepada tholabah shigor niscaya dia akan mengatakan sangat baik. Demikian juga masalah yang besar seperti ini harus dirinci, masyru’ atau tidak, timbul fitnah atau tidak, dsb, masalahnya adalah dunia akherat bukan masalah sepele.

SYUBUHAT KEDUA

Berkata Abu hazim :  Masalah TN dulu Syaih Yahya membolehkan jika ada mahrom…..
Bantahan :
Berikut ini terjemahan soal jawab yang berlangsung antara Abu hazim dan Syaih Yahya hafizohulloh dengan telepon, yang dengannya Abu hazim mengatakan bahwa Syaih Yahya hafizohulloh  membolehkan TN, Allohul musta’an, tidak kami dapatkan sedikitpun lafaz yang menunjukkan bahwa beliau membolehkan bahkan beliau mengatakan :    ” dan ditambahkan juga bahwa pembatasan ini yang mana para wanita berpindah kesuatu tempat tertentu yang bukan rumah-rumah mereka untuk maksud yang demikian tidak aku ketahui di zaman salaf apalagi dalam jumlah wanita yang banyak”.
Ini adalah sesuatu yang besar, sebagaimana pembaca lihat.
Berikut ini terjemahan rekaman yang kami maksud (silahkan download audionya diakhir dari tulisan ini ;ed)
Berkata Abu hazim:
Dimarkiz ini sebagian wanita belajar dan tinggal disini untuk belajar alqur’an dan hadits dan fiqih beserta mahrom mereka dan tempat ini khusus untuk wanita , tidak didapatkan padanya Alihtilath ataupun sesuatu yang dibenci oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala , bagaimana pendapatmu (ya Syaih) tentang hal ini?
Jawaban Syaih Yahya hafizohulloh
Pendapatku dalam hal ini adalah agar keadaannya untuk siapa-siapa yang ada walinya atau mahromnya, atau suami di tempat kalian. Tidak ada larangan untuk dia tinggal dirumah yang disiapkan untuknya dari yang disewa atau suatu tempat yang disiapkan untuk dia yang mana apabila sakit atau butuh kepada sesuatu yang dia perlukan ada walinya yang bisa memenuhi apa-apa yang dia perlukan sebagaimana keadaan suatu ri’ayah. Adapun keadaan seseorang yang datang bersama wanita dan dia sebagai walinya  kemudian meninggalkannya ditempat itu, meninggalkan saudara perempuannya atau istrinya atau fulanah dari para wanita kemudian meletakkannya disisi kalian kemudian pergi maka yang demikian ini akan memaksa kalian bahwa orang yang sakit butuh kepada pengobatan , orang yang pergi atau lari butuh untuk dicari, butuh orang yang mengirim kepada dia makanan, yang semua ini bisa mempengaruhi dakwah kalian
ألا وإن في الجسد مضغة إذا صلحت صلح الجسد كله وإذا فسدت فسد الجسد كله ، ألا وهي القلب
Ketahuilah sesungguhnya didalam jasad ada segumpal daging yang apabila bagus maka baguslah seluruh jasad itu, apabila rusak maka akan rusak seluruh jasad itu, ketahuilah bahwa itu adalah alqolb. Dan ditambahkan disini juga kadang-kadang terjadi su’u ri’ayah (jeleknya pengurusan) maka engkau berdosa dengannya, dan ditambahkan juga bahwa pembatasan ini yang mana para wanita berpindah kesuatu tempat tertentu yang bukan rumah-rumah mereka untuk maksud yang demikian tidak aku ketahui dizaman salaf apalagi dalam jumlah wanita yang banyak
Dan mungkin ada ditempat kami muhajirat yang bermaksud untuk menikah ,iya, satu, dua, tiga wanita, atau yang semisalnya, maka keadaan yang seperti ini mungkin bagi dia untuk datang tanpa mahrom, dicarikan bagi dia suami kemudian menikah. Maka yang demikian ini akan bermanfaat bagi dia atau suaminya, hal ini perkaranya lain. Adapun keadaan yang ada maka aku wasiatkan kepada kalian untuk menjauhinya karena terbangun diatasnya mukholafat/penyelisihan-penyelisihan syare’at, dan jangan tertipu dengan banyaknya orang-orang yang mendengar baik dari laki-laki atau perempuan, albarokah dari Alloh Subhanahu wa Ta’ala, datang kepada kalian –segala puji dari Alloh ta’ala – sejumlah wanita bersama dengan suami mereka, bersama dengan saudara laki-laki mereka, yang perempuan mendapatkan faedah demikian juga mahromnya, mendapatkan manfaat semuanya, lewat pengeras suara dan pertanyaan dalam lingkup umum yang bermanfaat bagi islam dan muslimin ,maka ini adalah khoir dan barokah, semoga Alloh Subhanahu wa Ta’ala memberikan taufiq kepada kalian.
Berkata Abu hazim:
kami berusaha dan berhati-hati agar perempuan-perempuan yang datang ketempat ini dalam keadaan wajib bersama mereka mahrom kami berusaha yang demikian insya Alloh ya syaih
Jawaban Syaih Yahya hafizohulloh :
Iya, barokallohu fiik, datang dia dan mahromnya, bukan datang seorang wali bersama perempuan ini kemudian pergi walinya, karena yang demikian ini sebagaimana yang kami isyaratkan dari alasan-alasan. Mungkin kalian melihat hal-hal yang tidak kami lihat dari apa-apa yang ditakutkan dari mukholafat didalamnya, tsabat diatas kebenaran dan sabar diatasnya baik sedikit atau banyak pengikutnya lebih diharapkan padanya pahala yang besar, daripada keadaan yang tumpang tindih tidak karuan”.(selesai)
Kemudian pada akhir bulan Jumadil Akhir 1433 (yakni satu pekan sebelum tulisan ini) Syaih yahya hafizohulloh  menegaskan kembali bahwa TN bid’ah. Akan datang pembahasan tentang bid’ahnya TN beserta sebagian perkataan para ulama diakhir tulisan ini.

SYUBUHAT KETIGA

Fatwa Syaih bin Baz tentang bolehnya wanita tinggal diluar daerahnya  untuk bekerja tanpa mahrom apabila tempat itu khusus bagi wanita.
Berikut ini fatwa beliau:
حكم إقامة المرأة في غير بلدها بدون محرم
س – سؤالي عن عمل المرأة وإقامتها بدون محرم في غير بلدها علما بأنني أعمل حالياً في المملكة وفي مكان كله نساء وأقيم في القسم الداخلي التابع للعمل ، أو السكن وقد حاولت استقادم أخي كمحرم شرعي لي ولكن لم أوفق ، فما حكم الشرع في وضعي الحالي وإقامتي هنا بدون محرم علما بأنني أولا استخرت الله – عز وجل – كثيراً قبل حضوري إلى هنا وأحسست أن الله يسر لي أمور كثيرة . ثانيا الوضع في بلدي من حيث الاختلاط وسوء الأخلاق في مجال العمل لا يشجع الإنسان المسلم الملتزم على الاستمرار فيه على ضوء ما ذكرت لكم فما رأيكم ؟
ج – نسأل الله لنا ولك التوفيق وصلاح الحال ، أما هذا الذي فعلت فلا بأس به ، فإقامة المرأة في بلد بدون محرم لا ضرر فيه ولا حرج فيه ، ولاسيما إذا كان ذلك لا خطر فيه طالما أن العمل بين النساء ومصون عن الرجال ، مما أباح الله – عز وجل – أو في قسم داخلي بين النساء كل هذا لا حرج فيه ، ولكن الممنوع السفر بمفردك فلا تسافري إلا بمحرم ، ولا تقدمي إلا بمحرم ، فإذا كنت قدمت من بلادك بدون محرم فعليك التوبة إلى الله والاستغفار وعدم العودة إلى هذا ، وإذا أردت السفر فلابد لك من محرم فاصبري حتى يأتي المحرم لقول النبي ، – صلى الله عليه وسلم – ، ” لا تسافر المرأة إلا مع ذي محرم ” . وإن تيسر المحرم من جهة الأقارب أو بالزواج فيكون لك زوجك محرما في السفر ، فالأمر في يد الله وعليك أن تعملي ما تستطيعين عند السفر حتى يتوفر المحرم ، وأما إقامتك الآن بين النساء وفي عمل مباح فلا حرج فيه والحمد لله .
ولا ريب أن سفر المرأة بدون محرم عمل خطير وفيه خطر وفتنة ، ولهذا ننصح أخواتنا في الله الحذر من ذلك والا يسافرون إلا بمحارم وننصحهن أيضا بالحذر من الاختلاط مع الرجال أو العمل مع الرجال أو الخلوة بالرجال كل هذا يجب الحذ منه سواء كان في المستشفيات أو في غير ذلك . نصيحتي للجميع أن لا يستقدم امرأة إلا بمحرم ولا تسافر المرأة إلا بمحرم وألا تعمل مع الرجال ولا تخلو بأي رجل من غير محارمها ، لأنه طريق للفتنة والرسول ، – صلى الله عليه وسلم -، منع ذلك وحرمه وقال ” لا يخلو رجال بامرأة فإن ثالثهما الشيطان ” . والمقصود من هذا أن الواجب فلا بأس أن تعمل المرأة بين النساء في عمل مباح لا يضر دينها لا يسبب الفتنة مع الرجل .
الشيخ ابن باز
Kesimpulan dari tanya jawab ini bahwa Syaih Bin baz rohimahulloh  memandang boleh bagi wanita untuk bekerja dan menetap di luar daerahnya tanpa mahrom yang mana pekerjaan itu khusus bagi wanita tidak ada ikhtilath, di lain sisi wanita ini tidak bisa untuk bekerja di daerahnya karena adanya ikhtilath dan akhlaq penduduknya yang jelek.
Kalau kita perhatikan secara sepintas seakan ini menjadi dalil yang kuat bagi Abu hazim untuk mendirikan TN, bagaimana tidak, karena dalam masalah pekerjaan atau keduniaan saja boleh apalagi masalah mempelajari ilmu agama yang hukumnya wajib ‘ain (sebagaimana yang dia sebutkan di muhadhorohnya). Ketika penulis membaca fatwa ini pertama kali, terbesik didalam hati bahwa tidak mungkin Syaih Bin baz berfatwa yang demikian dengan mutlak tanpa ikatan, karena sudah diketahui bahwa Alloh Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan para wanita untuk tinggal dirumah sebagaimana telah terdahulu penjelasannya di muqodimah.
Kemudian kami dapati fatwa Syaih Bin baz rohimahulloh sendiri ditempat yang lain bahwa keluarnya seorang wanita untuk bekerja adalah mim babi dhoruroh yakni karena DHORUROT atau terpaksa. Berikut ini fatwa yang dimaksud:
الكتاب : فتاوى اللجنة الدائمة – المجموعة الأولى
السؤال الثالث من الفتوى رقم ( 19359 )
س3: ما حكم الشرع في تولي المرأة أعمالا من الممكن أن يقوم بها الرجال بدلا منها، وذلك من أجل إيجاد مجالات عمل للمرأة فقط؟
ج3: الأصل في الشريعة أن تتبوأ المرأة المنزلة التي كرمها الله بها، من القرار في المنزل، والبعد عن أماكن الفتن والشبهات، وما يكون فيه عرضة لضررها، وأن تقوم بتربية أولادها تربية إسلامية، وتقوم بخدمة زوجها وشئون بيتها. ولكن إذا اضطرت إلى أن تعمل فينبغي أن تختار من الأعمال ما يناسبها في دينها ودنياها مما لا يؤثر على قيامها برعاية شئون زوجها وأولادها، مع مراعاة إذن زوجها في ذلك. أما أن تنافس الرجال في الأعمال التي هي من اختصاص الرجال، فإنه لا يجوز؛ لما في ذلك من السلبيات والأضرار والمفاسد الكثيرة التي تترتب على ذلك،…..
اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء
عضو … عضو … عضو … نائب الرئيس … الرئيس
بكر أبو زيد. صالح الفوزان . عبد الله بن غديان . عبد العزيز آل الشيخ . عبد العزيز بن عبد الله بن باز
Fatwa lajnah daimah no.19359.
Pertanyaan: apa hukum syariat dalam hal seorang wanita melakukan suatu pekerjaan yang sangat mungkin untuk seorang laki-laki melakukannya sebagai pengganti perempuan ini, dalam rangka memberikan lapangan kerja bagi wanita?
Jawaban : hukum asal didalam syari’at adalah tinggalnya wanita ditempat yang Alloh Subhanahu wa Ta’ala muliakan dengannya yaitu tetapnya ditempat tinggal/rumah, dan jauh dari tempat-tempat fitnah dan syubhat(tidak jelas) dan apa-apa yang bisa mengakibatkan bahaya bagi dia, dan agar mendidik anak-anak dengan pendidikan yang islamy serta melaksanakan kewajiban dia dalam melayani suaminya dan urusan-urusan rumah tangganya.
Akan tetapi apabila dia dalam keadaan terpaksa (dhoruroh) untuk mencari pekerjaan hendaknya memilih pekerjaan yang sesuai bagi dia baik agama dan keduniyaannya yang tidak membahayakan kewajiban dia didalam mengurusi perkara-perkara suaminya dan anak-anaknya.
Semua ini dengan izin suaminya. Adapun berlomba-lomba dengan laki-laki didalam pekerjaan yang khusus untuk laki-laki, maka ini tidak boleh dikarenakan didalamnya ada sisi-sisi pertentangan dan membahayakan serta kerusakan-kerusakan yang banyak dan berkelanjutan disebabkan ini semua…..(selesai yang dimaksud)
Lajnah addaimah lilbukhuts al’ilmiyah wal iftaa.
Pimpinan:Abdul ‘aziz bin abdillah bin baz
Wakil pimpinan : Abdul ‘aziz aalu syaih
Anggota : Bakr abu zaid, Sholeh alfauzan, Abdulloh bin ghodyan.
Jelas disini bahwa hukum asal bagi wanita adalah dirumah mengurusi hal-hal yang ada dirumah, segala bentuk yang berhubungan dengan nafaqoh menjadi tanggung jawab orang tua atau wali, akan tetapi apabila terpaksa atau dhoruroh seperti tidak ada yang mencarikan nafkah untuk dia, atau mempunyai hutang ,dsb yang semuanya dalam lingkup dhoruroh maka yang demikian ini akan masuk kedalam hukum yang lain yang dikenal didalam dua kaidah Ushul Fiqh yaitu :
Kaidah pertama : addhorurat membolehkan hal-hal yang dilarang.
Kaidah kedua : diambil hal-hal yang dilarang itu sesuai kadar dhorurohnya.
Berkata al imam As sa’dy di dalam Qowaidnya:
ولا محرم مع اضطرار
Dan tidak ada keharoman apabila dalam keadaan dhorurot,
وكل محظورٍ مع الضرورة … بقدرِ ما تحتاجُهُ الضرورة
Dan setiap yang dilarang bersamaan dengan dhoruroh…..
Boleh untuk ditempuh sekadar ukuran dhorurohnya.
Syarah:
Kaidah pertama : addhorurat membolehkan hal-hal yang dilarang.
Sesungguhnya Alloh Subhanahu wa Ta’ala apabila melarang sesuatu kemudian seorang hamba dalam keadaan dhorurot maka keadaan ini menjadikan sesuatu yang harom ini menjadi mubah atau boleh bahkan bisa meningkat kepada derajat wajib.
Dalilnya firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala
{ حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَأَنْ تَسْتَقْسِمُوا بِالْأَزْلامِ ذَلِكُمْ فِسْقٌ الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ دِينِكُمْ فَلا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْأِسْلامَ دِيناً فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لإِثْمٍ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ }
3. diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam ituj Jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(al maidah ayat 3)
Dan juga :
{ إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلا عَادٍ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ} .
115. Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu (memakan) bangkai, darah, daging babi dan apa yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah; tetapi Barangsiapa yang terpaksa memakannya dengan tidak Menganiaya dan tidak pula melampaui batas, Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(annahl 115)
Dan juga :
{ قُلْ لا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّماً عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَماً مَسْفُوحاً أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ أَوْ فِسْقاً أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلا عَادٍ فَإِنَّ رَبَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ} .
145. Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaKu, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi – karena Sesungguhnya semua itu kotor – atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam Keadaan terpaksa, sedang Dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, Maka Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.(al an’am 145)
Dan masih banyak diayat yang lain.
Dhorurot adalah kebutuhan yang sangat mendesak sekali, didalamnya ada kesulitan dan keterpaksaan yang tidak bisa lari darinya.
Berkata Syaih utsaimin:
ولكن ما هي الضرورة؟ الضرورة أن نعلم أن الإنسان إذا فعل هذا الشيء زالت ضرورته، ونعلم كذلك أنه لا يمكن أن تزول ضرورته إلا بهذا الشيء، يعني ليس هناك ضرورة تبيح المحرم إلا بشرطين: 1/ أن نعلم أنه لا تزول ضرورته إلا بهذا.
2/ أن نعلم أن ضرورته تزول به.
ولهذا إذا كان الإنسان يخاف الموت، فله أن يأكل ميتة لتوفر الشرطين السابقين، أما هؤلاء فليت هناك ضرورة تدفعهم لفعل هذا الشيء المحرم.
Akan tetapi apa itu dhoruroh : dhoruroh adalah bahwa kita mengetahui apabila seseorang melakukan sesuatu maka akan hilang dhorurohnya dan kita mengetahui bahwa tidak mungkin untuk menghilangkan dhorurot itu kecuali dengannya, yakni disana tidak ada dhoruroh kecuali apabila dua syarat :
Pertama: kita ketahui bahwa tidak hilang dhoruroh itu kecuali dengannya.
Kedua : kita ketahui bahwadhoruroh itu hilang dengannya.
Oleh karena apabila seseorang takut untuk terjatuh kepada kematian maka hendaknya dia memakan maitah karena telah terpenuhi padanya dua syarat tersebut.(selesai).
Dan sangat disayangkan bahwa sangat banyak dikalangan manusia melakukan hal-hal yang dilarang agama dengan
dalih bahwa dia dalam keadaan dhoruroh,bahkan orang-orang yang mengaku-ngaku sebagai salafy, dan penulis takut bahwa Abu hazim mendirikan TN ini dengan alasan dhoruroh, karena dia berdalil dengan fatwa Syaih Bin baz ini yang pantasnya diterapkan untuk keadaan yang mudthor. Entah dhoruroh apa yang ada padanya, dhoruroh karena dana atau apa, wallohu a’lam, semoga Alloh Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkan kita semua dari tipu daya syaithon.
Ataukah dia berpendapat bahwa para wanita salafiyah sudah dalam keadaan dhoruroh sehingga mereka harus keluar dari rumah-rumah mereka yang tentram yang Alloh Subhanahu wa Ta’ala muliakan mereka disana, jauh dari sanak keluarga mereka, dari kampung halaman mereka, sebagaimana yang dia pahami sehingga mengambil ta’liq Syaih Albany tentang bolehnya keluar wanita menuntut ilmu tanpa izin karena dhoruroh, dan akan datang tentang pembahasan ta’liq Syaih Albany ini pembahasan syubhat yang kelima.
Kaidah kedua : diambil hal-hal yang dilarang itu sesuai kadar dhorurohnya.
وكل محظورٍ مع الضرورة … بقدرِ ما تحتاجُهُ الضرورة
Dan setiap yang dilarang bersamaan dengan dhoruroh…..
Boleh untuk ditempuh sekadar ukuran dhorurohnya.
Bahwa setiap apa-apa yang diperbolehkan karena dhoruroh dari perbuatan atau meninggalkan perbuatan dilakukan sekadar apa yang hilang dengannya dhoror dan gangguan itu dan tidak boleh dari itu apalagi  terus-menerus berkecimpung didalam sesuatu yang diharomkan Alloh Subhanahu wa Ta’ala dengan alasan karena dhoruroh.
Dalilnya adalah firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala :
{ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلا عَادٍ فَلا إِثْمَ عَلَيْهِ }
Maka Barangsiapa yang terpaksa memakannya dengan tidak Menganiaya dan tidak pula melampaui batas, Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(annahl 115)
.”غير باغ”
Yakni tidak mengharap hal yang diharomkan itu secara dzatnya akan tetapi sekedar untuk menghilangkan mudhorot itu.
“ولا عاد”
Yakni tidak melebihi kadar yang melebihi batasan dhoruroh itu.
Kalaulah kita katakan TN itu dhoruroh –kalau-kalau saja- untuk mereka apakah bagi mereka untuk tinggal ditempat itu bertahun-tahun sampai menjadi syaikhoh atau yang semisalnya, wallohul musta’an, dan itulah yang terjadi.

SYUBUHAT KEEMPAT

Fatwa Syaih Muqbil bin hady alwadi’i tentang bolehnya wanita tinggal diluar daerahnya untuk menuntut ilmu tanpa mahrom apabila tempat itu khusus bagi wanita.
Berikut ini tarjamah fatwa beliau sebagaimana mereka sebar-sebarkan:
Ditanyakan kepada Syeikh Muqbil Rahimahullahu ta’ala: seorang wanita berkeinginan untk belajar di makkah, perlu diketahui bahwa abinya cuma mengantarkannya kemudian meninggalkanya (di makkah), maka apa boleh bagi dia untuk tinggal menetap sendiri (di makkah) dan menuntut ilmu dan perlu diketahui disana ada tempat tinggal khusus bagi wanita (TN ISTILAH KITA) ? beliau -rahimahulloh- menjawab: ” jika dia tinggal (di makkah) tidak ber-ikhtilath (campur baur laki-laki perempuan;ed) dengan ajanib dan bila telah selesai masa belajarnya lalu abinya datang menjemputnya untuk safar (kembali kekotanya) karena tidak halal bagi wanita untuk safar kecuali dengan mahram dan dia belajar kitabullah  dan sunnah rasul maka aku berharap hal tersebut tidak mengapa sebab yg terlarang adalah ber-khalwat (tidak ada orang ke-3 saat berduanya seseorang dengan yang bukan mahromnya) dan juga yang terlarang safar tanpa mahram. (gharatul asyrithoh 2/220-221) dan disebutkan pula dikumpulan fatwa mar’atul muslimah lil-imaamil waadi’i begitu judulnya hal. 71 kitabul ilmi bab laa tusaafirul mar’aati lil-ilmi biduuni mahram
Allohu akbar, kami bisa merasakan betapa senangnya Abu hazim membaca fatwa ini, dia akan mengatakan Syaih Muqbil membolehkan TN, Syaih Muqbil membolehkan TN. Tapi…tunggu dulu kawan, semua fatwa harus dilihat sesuai dengan dalil atau tidak, karena kita semua mengaku sebagai pengikut salaf yang berpedoman dengan alqur’an dan sunnah atas pemahaman salaful umah. Mungkin dia akan tetap mengatakan: pokoknya Syaih Muqbil membolehkan TN.
Maka marilah kita perhatikan fatwa beliau dengan seksama, karena apabila kita ikuti apa yang dipahami Abu hazim dari fatwa ini dia akan mengatakan bahwa tentang masalah TN fiihi khilaf baina al ulama’ (ada perselisihan dikalangan ulama) karena Syaih Muqbil membolehkan TN.
Wa billahi nasta’in, paling puncaknya dari apa yang beliau fatwakan (wallohu a’lam) adalah tentang :
Hukum tinggalnya perempuan ini di Makkah adapun hukum bid’ah atau tidaknya pendidikan ini maskutun ‘anhu yakni tidak disebutkan, demikian jugaberapa lama pendidikan ini yakni menetapnya akhwat ini tanpa mahrom, tidak disebutkan.
Dan akan kami jawab ini semua dengan jawaban Syaih Muqbil bin Hadi Alwadi’i sendiri didalam kitab beliau yang sama (gharatul asyrithoh) dan juga amalan atau praktek beliau.
Syaih Muqbil bin Hadi Alwadi’i sebagaimana ulama salaf yang lain berpendapat : bahwa hukum asal bagi perempuan adalah dirumahnya bukan di TN atau yang lainnya kecuali apabila dhoruroh atau terpaksa atau adanya keperluan yang mendesak kemudian pulang kerumahnya.
Buktinya adalah perkataan beliau dikitab yang sama di jilid 2 halaman 466
…أما الذي ننصح به ألا تذهب إلا لأمر ضروري فإن المرأة فتنة….فأنا أنصح ألا تذهب إلا لأمر ضروري لا بد منه ولا تجد من يكفيها….
Adapun yang kami nasehatkan agar tidak bepergiaan kecuali untuk keperluan yang dhoruroh (terpaksa) karena sesungguhnya perempuan itu fitnah……maka aku nasehatkan agar dia tidak pergi kecuali untuk keperluan yang dhoruroh (terpaksa) yang tidak bisa tidak dan tidak ada yang memenuhinya….
Dan berkata rohimahulloh di jilid 2 halaman 467
..إذا ذهبت لأمر ضروري كما تقدم فلا بأس….
Apabila dia pergi karena perkara yang dhoruroh sebagaimana yang terdahulu maka tidak mengapa.
Dan berkata rohimahulloh di jilid 2 halaman 481:
…ومعنى قوله (وقرن في بيوتكن) في : ظرفية فالمراد ابقينّ في بيوتكنّ ويجوز لها أن تخرج للحاجة الضرورية…
Dan makna (dan tinggallah kalian dirumah-rumah kalian) –fii- disini adalah dorfiyah, maksudnya tetaplah di rumah-rumah kalian dan boleh bagi dia keluar untuk keperluan yang dhoruroh…..(selesai)
Mungkin masih banyak perkataan beliau di kitabnya yang lain, akan tetapi sudah cukup ini semua untuk menunjukkan bahwa beliau rohimahulloh memandang bahwa tidaklah pergi perempuan ini kecuali hal yang dhoruroh, dan tidak tinggal dalam tempo yang lama yakni sesuai dengan kebutuhan, sebagaimana kami jelaskan ketika menyinggung masalah dhoruroh yaitu :
Kaidah kedua : diambil hal-hal yang dilarang itu sesuai kadar dhorurohnya.
وكل محظورٍ مع الضرورة … بقدرِ ما تحتاجُهُ الضرورة
Dan setiap yang dilarang bersamaan dengan dhoruroh…..
Boleh untuk ditempuh sekadar ukuran dhorurohnya.
Apalagi lihatlah wahai kalian yang ingin mencari keutamaan baik para muslimah salafiyah atau para pengelola TN, fatwa Syaih Muqbil bin Hadi Alwadi’i di kitab yang sama jilid 2 halaman 481:
سؤال إذا كانت امرأة قارة في بيتها ويفضل البقاء في البيت ولا تذهب حتى إلى المسجد أهي خير أم المرأة التي تطلب العلم وتقصد المساجد ؟
جواب : المرأة التي تبقى في بيتها وتتعلم في بيتها خيرلأن النبي صلى الله عليه وسلم قال (لا  تمنعوا إماء الله مساجد الله وبيوتهنّ خير لهنّ)
Pertanyaan
Apabila seorang wanita tinggal dirumahnya dan mengutamakan untuk diam dirumahnya serta tidak bepergiaan bahkan ke masjid sekalipun, mana yang lebih utama dia ataukah wanita yang mencari ilmu dan menuju ke masjid.
Jawab: seorang wanita yang tinggal di rumahnya kemudian belajar dirumahnya lebih utama, karena Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam berkata :”jangan kalian larang hamba-hamba Alloh yang perempuan untuk pergi ke masjid-masjid Alloh, dan rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka.(selesai)
Apakah setelah nasehat beliau ini kalian masih bersikeras tentang Tarbiyatun Nisa, bukankah masih bisa bagi muslimah salafiyah untuk belajar dirumah mereka dengan cara-cara yang jauh dari syubhat, Allohul musta’an.

SYUBUHAT KELIMA

Ta’liq Syaih Albany atas kitab fiqhus sunnah sayyid sabiq berikut ini.
خروج المرأة لطلب العلم :
إذا كان العلم الذي تطلبه المرأة مفروضا (1) عليها وجب على الزوج أن يعلمها إياه – إذا كان قادرا على التعليم – فإذا لم يفعل، وجب عليها أن تخرج حيث العلماء ومجالس العلم، لتتعلم أحكام دينها ولو من غير إذنه.
أما إذا كانت الزوجة عالمة بما فرضه الله عليها من أحكام، أو كان الزوج متفقها في دين الله، وقام بتعليمها، فلا حق لها في الخروج إلى طلب العلم إلا بأذنه.
__________
(1) العلم الفرض: هو العلم بالعمل الذي فرضه الله لان كل ما فرض الله عمله فرض العلم به.
Maksud Abu hazim dengan membawakan tulisan ini bahwa seorang wanita wajib keluar mencari ulama dan majelis-majelis ilmu guna mencari ilmu-ilmu agama yang wajib walau tanpa izin walinya.
Maka kami katakan apakah ada hubungan antara ta’liq ini dengan TN dia, tak ada sama sekali, ataukah dia beranggapan bahwa akhwat-akhwat TN dalam keadaan dhoruroh sehingga dia harus pergi dari rumah untuk belajar agama berkelana sebagaimana laki-laki, Allohul musta’an. Hendaknya Abu hazim mempelajari definisi dhoruroh, bukankah disana ada jalan yang banyak untuk mendapatkan ilmu agama baik yang hukumnya fardhu ‘ain atau kifayah, lewat kitab-kitab, kaset, cd, mp3, radio, ta’lim dikampung dengan memanggil Syaih atau ustadz, mendirikan pondok sendiri walaupun sederhana, menghapal alqur’an, sunnah, dsb dirumah daripada harus berkelana dengan keadaan seperti ini.
Disebutkan di fatwa Allajnah addaimah :
خروج الفتاة لطلب العلم بغير إذن الوالد
السؤال الثاني من الفتوى رقم ( 18859 ) :
س2: ما حكم ذهابي إلى المسجد أو مجلس ذكر في بيت مسلم للدعوة أو التلقي بغير إذن الوالد، إذ أنه لو علم بذلك لمنعني، ولكن الإيمان يبلى كما يبلى الثوب، وأحتاج إلى تجديد إيماني؛ لأني في وسط مليء بالمنكرات، فهل يجوز لي الذهاب خفية أم لا؟
ج2: المرأة قبل زواجها تحت ولاية أبيها، فلا يجوز لها الخروج من البيت إلا بإذنه، سواء كان للمسجد أو لغيره؛ لأن طاعة الأب واجبة في غير معصية الله، ونوصيك بالاستماع لإذاعة
القرآن الكريم من المملكة العربية السعودية ؛ لأن فيها علما كثيرا، وتوجيهات سديدة، وفيها برنامج نور على الدرب، الذي يجيب فيه جماعة من العلماء عن أسئلة المستمعين، وفقك الله لكل خير، ومنحك الفقه في الدين.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.
اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء
عضو … عضو … عضو … نائب الرئيس … الرئيس
صالح الفوزان … بكر أبو زيد … عبد الله بن غديان … عبد العزيز آل الشيخ … عبد العزيز بن عبد الله بن باز
Pertanyaan: apa hukum kepergianku kemasjid atau majelis zikir dirumah seorang muslim untuk dakwah atau pertemuan tanpa izin orangtua, karena kalau dia mengetahui akan melarangku , akan tetapi iman itu hancur sebagaimana pakaian itu rusak dan butuh kepada pembaharuan iman, karena aku hidup ditengah-tengah kemungkaran, apakah boleh aku pergi sembunyi-sembunyi atau tidak?
Jawab:
Seorang perempuan sebelum menikah menjadi tanggungjawab ayahnya, maka tidak boleh bagi dia keluar dari rumah kecuali dengan izinnya, samasaja kemasjid atau selainnya karena taat kepada orangtua wajib kecuali didalam maksiyat, dan kami menasehati engkau agar mendengarkan radio alqur’an alkarim milik kerajaan Saudi arabia, karena didalamnya ada ilmu yang banyak, dan bimbingan yang tepat, disana ada acara nur ‘ala darb yang menjawab padanya jama’ah dari ulama terhadap pertanyaan para pendengar.
Semoga Alloh Subhanahu wa Ta’ala memberikan taufiq padamu disetiap kebaikan dan memberimu pemahaman didalam agama.
Lajnah addaimah lilbukhuts al’ilmiyah wal iftaa.
Pimpinan:Abdul ‘aziz bin abdillah bin baz
Wakil pimpinan : Abdul ‘aziz aalu syaih
Anggota : Bakr abu zaid, Sholeh alfauzan, Abdulloh bin ghodyan.
Maka jelas disini bahwa banyak untuk mendapatkan ilmu agama dengan jalan yang jauh dari syubhat bukannya bermudah-mudah untuk terjerumus kedalam hal yang dilarang oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala dengan dalih dhoruroh, wa barokatu minalloh.

SYUBUHAT KEENAM

Berkata Abu hazim : Apa ada di zaman salaf pondok laki-laki atau ma’had, mereka para shohabat tinggal di masjid, kalau dikatakan bahwa TN muhdats.
Bantahan :
Sebelum kita masuk kedalam pembahasan bid’ah dan istihsan, ada baiknya kita sebutkan sebagian perkataan para masyaih tentang keberadaan TN atau yang berkaitan erat dengan TN  dari sisi masyru’ atau tidaknya.
1. Berkata Syaih Yahya hafizohulloh sebagaimana telah dinukilkan: ” dan ditambahkan juga bahwa pembatasan ini yang mana para wanita berpindah kesuatu tempat tertentu yang bukan rumah-rumah mereka untuk maksud yang demikian tidak aku ketahui di zaman salaf apalagi dalam jumlah wanita yang banyak”
2. Fatwa alLajnah addaimah:
السؤال السابع من الفتوى رقم ( 9881 )
س7: مسلمة طلب منها أن تخرج لتعليم الفقه والتجويد وعلوم القرآن في المسجد، فقالت: إن الدعوة في البيت مع عدد قليل أولى وأفضل من الخروج إلى المسجد والدعوة إلى عدد كبير، والحجة في ذلك: أن هذا الأمر لم تفعله المسلمات الأوائل، ولم يأمرهن رسول الله صلى الله عليه وسلم بذلك، مع حاجة المسلمات إلى ذلك، وترك هذا الأمر إلى الرجال؛ لأنهم أقدر على ذلك، وليس خروجهم فتنة. هل هذا القول صحيح؟ أيهما أفضل: الدعوة والتعليم في البيت لعدد قليل أم الخروج إلى المسجد؟
ج7: جعلك ذلك التعليم في البيت أفضل؛ لأنه أسلم وأبعد من الفتن، وأوفق لما كان عليه السلف.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.
اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء
عضو … نائب رئيس اللجنة … الرئيس
عبد الله بن غديان … عبد الرزاق عفيفي … عبد العزيز بن عبد الله بن باز
Seorang muslimah diminta keluar rumah untuk mengajar fiqih dan tajwid serta ulumul qur’an dimasjid, maka perempuan ini menjawab :”sesungguhnya dakwah bagi wanita dirumah walaupun dalam jumlah sedikit lebih utama dan afdhol dibanding keluar ke masjid dan berdakwah dalam jumlah yang besar”. Hujjah dia adalah bahwa perkara ini tidak dilakukan oleh para muslimah yang terdahulu, dan Rosul shollallohu ‘alaihi wasallam tidak memerintahkan mereka hal ini bersamaan dengan kebutuhan yang mendesak dari para muslimah padanya, dan menyerahkan hal ini ke tangan laki-laki karena mereka lebih mampu dan tidak ada fitnah apabila laki-laki keluar. Apakah jawaban wanita ini benar? Manakah yang afdhol dakwah dan ta’lim di rumah bagi wanita walaupun sedikit pesertanya ataukah keluar ke masjid?
Jawab : jadikanlah belajar mengajar itu dirumah maka itu lebih utama, karena yang demikian ini lebih selamat dan lebih jauh dari fitnah serta lebih mencocoki dengan apa yang ada  padanya assalaf.
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.
Lajnah addaimah lilbukhuts al’ilmiyah wal iftaa.
Pimpinan:Abdul ‘aziz bin abdillah bin baz
Wakil pimpinan : Abdur rozaq ‘afifi
Anggota : Abdulloh bin ghodyan.
3. Fatwa Syaih Al albany rohimahulloh:
السؤال
تقوم بعض النسوة بالخروج لدعوة النساء، حيث يقمن بزيارتهن في بيوتهن ودعوتهن لدروس خاصة، وقد يكثر ذلك منهن، فهل يخالف ذلك ما أمرهن الله به من القرار في البيوت؛ لأنها تذهب وتتنقل، وخاصة عندنا -يا شيخ- مأذون للمرأة أن تسوق السيارة، فتذهب لهذه وتذهب لهذه فهل هذا مخالف؟
الجواب
أعتقد أن هذا العمل أيضاً من مشاكل العصر الحاضر، ومن ذلك أننا أصبحنا اليوم نقول: إن هناك دعاة وداعيات، وهذه -بلا شك- من محدثات الأمور، فما ينبغي أن يكون هناك نساء يتسمين بالداعيات، لا بأس، بل هذا واجب أن يكون هناك نساء متعلمات العلم الشرعي، بحيث أنهن يُقصدن من النساء بسؤال؛ لأن كثيراً من النساء يتحرجن من أن يتوجهن بأسئلتهن الخاصة بهن إلى أفاضل العلماء، وإذا وجدت في النساء عالمات حقاً على الشرط الذي سبق بيانه آنفاً، أي: بالكتاب والسنة، فينبغي على النساء أن يأتينهن وليس هو العكس؛ لأننا نعتقد بحق قول من قال من أهل العلم: وكل خير في اتباع من سلف، وكل شر في ابتداع من خلف.
وقد وصل الأمر ببعض النساء هنا وربما في بلاد أخرى أنها تصعد المنبر في المسجد وتلقي الدروس على النساء، وقد يكون هناك في باحة المسجد رجال فاتتهم الصلاة مع الجماعة فيدخلون ويصلون، أنا -بلا شك- لا أتورع أن أقول: إن هذه من البدع، فالأمر -كما ذكرت في سؤالك- أن واجب المرأة أن تقر في بيتها، فإذا كانت مميزة على غيرها بالعلم بشرع الله عز وجل فذلك لا يؤهلها أن تنطلق هكذا كالرجال، وتساويهم في الخروج، كأنَّ ربنا عز وجل ما قال في كتابه الكريم: { وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ } [الأحزاب:33] .
فالأصل في المرأة ألا تخرج إلا لحاجة لا يمكنها أن تحققها إلا بالخروج، وهنا يظهر الأمر بين المرأة العالمة، فلا يجوز لها أن تخرج وتنطلق -كما يقولون- كداعية، وبين المرأة التي تريد أن تتعلم العلم فهي تخرج؛ لأنه يجوز لها أن تخرج إلى المسجد كما هو معلوم، وكما كان الأمر في عهد الرسول عليه الصلاة والسلام، مع العلم أن الرسول عليه السلام قد قال لهن: ( وبيوتهن خير لهن ) ومع ذلك فقد أقرهن عليه الصلاة والسلام في خروجهن إلى المساجد حتى في صلاة العشاء، وجاء النهي الصريح: ( لا يمنعنَّ أحدكم زوجته أن تخرج لصلاة العشاء ) وكانت المرأة تنصرف من صلاة الفجر كما جاء في صحيح مسلم ( وهن متلفعات بمروطهن ).
فإقرار الرسول عليه السلام لخروج النساء لأداء الصلوات الخمس في المساجد مع بيان أن صلاتهن في بيوتهن خير لهن؛ ما ذلك إلا لأنهن كن يخرجن لطلب العلم، فإذا كان هناك امرأة تجلس في بيتها، ولا مانع من أن تحضر النساء إليها كل على حسب ظرفها وطاقتها إلخ، أما هي فلا تخرج خروج الرجال؛ لأن هذا من التشبه بالرجال.
Ringkasan dari apa yang disebutkan diatas bahwa beliau menganggap bahwa dakwahnya seorang perempuan berpindah dari suatu rumah kerumah yang lain termasuk kebid’ahan karena telah menyelisihi apa yang Alloh Subhanahu wa Ta’ala wajibkan atas dia untuk tinggal dirumah bahkan yang harus dia tempuh adalah sebaliknya yakni para wanita datang ketempat dia.
4. Tidak didapatkan Tarbiyatun Nisa’ di masa Syaih Muqbil bin Hadi Alwadi’i  rohimahulloh ataupun semisalnya.
Adapun perkataan Abu hazim :
“Apa ada di zaman salaf pondok laki-laki atau ma’had, mereka para shohabat tinggal di masjid, kalau dikatakan bahwa TN muhdats, mana kitab yang menunjukkan tentang ma’had”.
Ungkapan ini sebenarnya tidak pantas untuk diucapkan semisal Abu hazim, bagaimana dia mengatakan bahwa ma’had untuk laki-laki itu muhdats, dan tidak ada kitab yang menyebutkannya. Bahkan ma’had atau yang dikenal dengan madrasah sudah ada usulnya/dasarnya di zaman Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam.
Kiranya perlu kita bahas secara lebih mendalam tentang muhdats atau bid’ah agar tidak tergelincir tentang masalah ini.
Disebutkan oleh Al imam Asy syathiby abu ishaq Ibrohim bin Musa meninggal tahun 790 hijriyah didalam kitab beliau Al I’thishom (terbitan Dar ibnul jauzi) tentang :
Definisi bid’ah.
Berkata rohimahulloh (jilid 1, halaman 47 )
فالبدعة إذن عبارة عن طريقة في الدين مخترعة تضاهي الشرعية يقصد بالسلوك عليها المبالغة في التعبد لله سبحانه وهذا على رأي من لا يدخل العادات في معنى البدعة وإنما يخصها بالعبادات.
Bid’ah adalah ibarat suatu thoriqoh/jalan didalam agama yang dibuat-buat untuk mengimbangi/menyaingi syariat yang mana pelakunya bermaksud untuk berlebih-lebihan didalam beribadah kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Ini adalah definisi orang-orang yang tidak memasukkan perkara-perkara adat kebiasaan kedalam bid’ah akan tetapi hanya mengkhususkan masalah peribadatan. (selesai)
Seluruh bid’ah tercela tidak terkecuali.
Berkata rohimahulloh (jilid 1, hal. 61)
لا خفاء أن البدع من حيث تصورها يعلم العاقل ذمها لأن اتباعها خروج عن الصراط المستقيم ورمي في عماية وبيان ذلك من جهة النظر والنقل الشرعي العام
Tidak tersembunyi bahwa bid’ah dari sisi bentuknya diketahui oleh orang yang berakal bahwa itu tercela karena dengan mengikuti bid’ah berarti telah keluar dari ash shirothol almustaqim dan melemparkan diri kedalam kebutaan. Dan hal ini terbukti secara pemikiran dan nash syar’i secara umum.(selesai)
Kemudian beliau rinci bukti-bukti tersebut.
Berkata rohimahulloh (jilid 1, hal. 245)
الباب الثالث في أن ذم البدع والمحدثات عام لا يخص محدثة دون غيرها
Bab yang ketiga bahwa celaan terhadap bid’ah dan muhdatsat itu umum tidak dikhususkan satu dengan yang lain.
Pembagian bid’ah kedalam haqiqy dan idhofy.
Berkata rohimahulloh:
وأما الاختلاف من جهة كون البدعة حقيقية أو إضافية ، فإن الحقيقية أعظم وزراً ، لأنها التي باشرها المنتهي بغير واسطة ، ولأنها مخالفة محضة وخروج عن السنة ظاهر . كالقول بالقدر ، والتحسين والتقبيح ، والقول بإنكار خبر لواحد ، وإنكار الإجماع ، وإنكار تحريم الخمر ، والقول بالإمام المعصوم ، وما أشبه ذلك .
فإذا فرضت إضافية : فمعنى الإضافية أنها مشروعة من وجه ، ورأي مجرد من وجه .
“Adapun khilaf dari sisi keberadaan bid’ah itu hakiki atau idhofy(yang disandarkan dengan yang lain). Maka sesungguhnya bid’ah hakiki lebih besar dosanya karena bid’ah hakiki ini langsung berhubungan pelakunya dengan kebid’ahan tanpa perantara dan juga bid’ah ini merupakan penyelewengan murni serta keluar dari assunnah dengan jelas, seperti bid’ah qodariyah, bid’ah tahsin wa taqbih (penilaian baik dan benar), penginkaran hadits ahad, pengingkaran ijma’, pengingkaran haromnya khomer, keyakinan bahwa imam itu ma’shum ,dsb. Adapun maksud bid’ah idhofy adalah yang disyariatkan disatu sisi dan pemikiran (otak-otakan) yang murni disisi yang lain”.(selesaii)
Dari sini tampak bahwa diantara bid’ah ada yang jelas kebid’ahannya dan ada yang samar-samar bagi sebagian orang. “Jelas” dalam artian bahwa hal itu menyelisihi dalil-dalil syar’i atau bahkan keluar darinya tanpa keraguan. Adapun “samar-samar” yaitu yang rancu bagi sebagian orang dan tidak rancu bagi orang lain yang bisa membedakan antara bid’ah dan sunnah dari kalangan para ulama atau orang –orang yang Alloh Subhanahu wa Ta’ala berikan taufiq.
Kesamaran/kerancuan ini diakibatkan adanya gabungan antara sisi syariat dan sisi buatan manusia dalam bid’ah tersebut, sehingga orang yang melakukan bid’ah idhofy akan menyangka bahwa amalan dia ada asalnya didalam islam.
Ma’had atau madrasah untuk laki-laki bukan bid’ah.
Berkata rohimahulloh (jilid 1, halaman 350)
Adapun madrosah-madrosah maka tidak ada hubungannya dengan perkara-perkara peribadatan sehingga dikatakan padanya bid’ah, kecuali atas pendapat orang yang nyleneh bahwa termasuk sunnah untuk tidak mempelajari ilmu kecuali di masjid-masjid, dan tidak ada orang yang berpendapat seperti ini.
Bahkan ilmu di zaman awal disebarkan disetiap tempat, di masjid atau di rumah atau ketika bepergian, atau ketika mukim atau yang lain, bahkan sampai di pasar-pasar.
Apabila salah satu dari manusia menyiapkan untuk orang yang membaca ilmu (belajar) suatu madrosah yang bisa membantu para penuntut ilmu, tidaklah orang yang menyiapkan madrosah ini menambah bangunan dari rumah dia atau tembok dari tembok dia, atau yang lainnya. Maka dari sisi mana sampai dikatakan bahwa madrosah itu bid’ah ???
Tempat tinggal untuk santri bukan bid’ah.
Berkata rohimahulloh (jilid 1, halaman 345)
Dan diantara mereka para muhajirin ada yang tidak mendapatkan pekerjaan untuk makan atau memperoleh tempat tinggal maka Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam mengumpulkan mereka di Sufah masjidnya yang berupa pelataran masjid yang beratap, disitu mereka tidur dan duduk-duduk, karena mereka tidak mempunyai tempat tinggal sebagaimana mereka tidak mempunyai harta dan keluarga. Maka ketika ahlus sufah tidak punya tempat tinggal, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam menyiapkan masjidnya untuk tempat berteduh mereka sampai mereka mendapatkan tempat tinggal. Sebagaimana ketika mereka tidak memperoleh makanan, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam menganjurkan manusia agar menolong mereka dan berbuat ihsan kepada mereka. Sebagaimana disifatkan oleh Abu huroiroh rodhiyalloh ‘anhu yang mana dia termasuk dari mereka dan paling tahu tentang mereka rodhiyalloh ‘anhum Ajma’in, didalam shohih (albukhory) :
وأهل الصفة أضياف الإسلام لا يأوون على أهل ولا مال ولا على أحد إذا أتته صدقة بعث بها إليهم ولم يتناول منها شيئا وإذا أتته هدية أرسل إليهم وأصاب منها وأشركهم فيها
Dan ahli sufah adalah tamu-tamu islam tidak bersandar di salah satu keluarga atau harta atau seorangpun, apabila datang sedekah kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam diantar untuk mereka dan Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam tidak mengambilnya sedikitpun. Apabila datang kepada dia hadiah diantar kepada mereka dan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam mengambilnya.(selesai)
Berkata rohimahulloh (jilid 1, halaman 348)
Maka yang terjadi bahwa duduknya mereka di sufah tidaklah menjadi tujuan asas, dan tidaklah bangunan sufah untuk orang faqir sebagai maksud, dari sisi, hingga dikatakan: bahwa bangunan itu dianjurkan bagi orang yang mampu untuk mempunyai tempat tinggal….(selesai)
Ulasan
Maka jelaslah bahwa madrosah atau ma’had dan masuk didalamnya tempat tinggal santri bukan perkara bid’ah atau muhdats, bahkan sudah ada dasarnya di masa Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam yang mana ilmu di itu disebarkan disetiap tempat, di masjid atau di rumah atau ketika bepergian, atau ketika mukim atau yang lain, bahkan sampai di pasar-pasar. Hendaknya Abu hazim membaca kitab ini dan menerunginya, sekedar nasehat dari penulis.
Pembicaraan kita ini adalah berkaitan dengan madrosah untuk laki-laki karena rentetan penjelasan dan adilah yang dibawakan al imam Asy syathiby berkaitan dengan ahlus sufah yang mereka semuanya tidak terkecuali adalah rijal yakni laki-laki barangsiapa yang menolak ini maka dia telah takabaro.
Adapun madrosah semisal TN bentuknya maka tak akan didapat di masa salaf alias bid’ah, karena ada disitu fawariq / perbedaan-perbedaan diantara rijal dan nisa’ wallohul musta’an, dan tidaklah tersisa bagi dia kecuali al istihsan yakni menganggap sesuatu amalan itu baik dengan perasaan atau pemikiran dia tanpa dia sadari. Telah berkata Imam Asy syafi’ rohimahulloh:
“من استحسن فقد شرع”.
Barangsiapa yang berbuat istihsan maka dia telah membuat syari’at.
Dan juga dia harus mengetahui bahwa wasailud dakwah taufiqiyah (perantara-perantara dakwah harus berdasarkan dalil),dan pembahasan tentang ini cukup panjang.

Penutup
Bukan berarti dengan tulisan ini penulis berusaha untuk merobohkan Tarbiyatun Nisa’ dalam artian bahwa wanita muslimah tak perlu belajar, akan tetapi syareat adalah lebih diutamakan, Sebenarnya tidak sulit untuk Abu hazim dan dan para pengelola TN –insya alloh-untuk mengembalikan kepada apa yang ada padanya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam dan para shahabatnya rodhiyalloh ‘anhum yaitu para wanita bersama suaminya atau walinya dihadapan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam  belajar, yang itu adalah sebagaimana Abu hazim dan para tholabah Indonesia jumpai di Darul Hadits Damaj Sho’dah Yaman dihadapan para masyaih ahlus sunnah. Demikian tulisan ini kami tulis, semoga bermanfaat.
سبحانك اللهم ربنا وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت أستغفرك و أتوب إليك